Pasukan Bela Diri Darat Jepang (Ground Self-Defense Force/GSDF) pada Senin pagi mengangkut peluncur rudal dan sejumlah peralatan lainnya ke garnisun militer di Kumamoto, Pulau Kyushu, sebagai persiapan penempatan rudal jarak jauh di lokasi tersebut.
Penempatan ini diperkirakan akan selesai dalam bulan ini dan menjadi yang pertama kalinya dilakukan. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya Jepang untuk memperoleh kemampuan serangan balasan (counterstrike capabilities) terhadap target musuh. Kebijakan ini dianggap sebagai titik balik dari kebijakan pertahanan Jepang yang selama ini berorientasi murni pada pertahanan di bawah konstitusi yang menolak perang.
Rudal yang akan ditempatkan merupakan versi peningkatan dari Type 12 land-to-ship guided missile. Versi terbaru ini memiliki jangkauan sekitar 1.000 kilometer, sehingga dari Kyushu dapat menjangkau sebagian wilayah pesisir daratan utama negara lain.
Menurut pemerintah Jepang, rudal semacam ini dapat digunakan jika Jepang menilai bahwa musuh telah memulai serangan, bahkan sebelum Jepang benar-benar mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.
Namun, kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran dari sejumlah pihak. Mereka menilai bahwa kesalahan penilaian dapat berujung pada serangan pendahuluan atau preemptive strike, yang dilarang oleh hukum internasional.
Sejumlah warga di Prefektur Kumamoto juga menyampaikan kritik dan melakukan protes terhadap rencana penempatan rudal tersebut. Mereka menilai Kementerian Pertahanan Jepang belum memberikan penjelasan yang cukup kepada masyarakat.
Para pengkritik juga menyoroti bahwa lokasi penempatan rudal berpotensi menjadi sasaran serangan jika terjadi konflik di masa depan.
Sc : mainichi








