Menu

Dark Mode
Toyota Perkuat Peran di Joby Aviation, Dorong Produksi Taksi Udara Lewat Sistem TPS Resmi Dihentikan, Anime Terminator Zero Tak Akan Berlanjut ke Season Berikutnya Kata Jepang yang Dipakai Saat Memesan Minuman Pekerja Tewas Terbakar dalam Tradisi Pembakaran Padang Rumput di Yamaguchi Jepang Minta Data Kewarganegaraan Penghuni Asing Rumah Susun, Alasan Evakuasi dan Ketertiban 3 Anak Remaja di Daerah Dotonbori Osaka Jadi Korban Penusukan, 1 Orang Meninggal

News

Jepang Setujui Paket Ekonomi Besar Senilai 21,3 Triliun Yen untuk Meredam Biaya Hidup

badge-check


					Jepang Setujui Paket Ekonomi Besar Senilai 21,3 Triliun Yen untuk Meredam Biaya Hidup Perbesar

Pemerintah Jepang pada Jumat menyetujui paket ekonomi besar senilai sekitar 21,3 triliun yen (US$135 miliar) untuk mengatasi meningkatnya biaya hidup, seiring Perdana Menteri Sanae Takaichi berupaya mendorong pertumbuhan melalui belanja fiskal yang ekspansif.

Paket stimulus pertama di bawah kepemimpinan Takaichi—yang baru sebulan menjabat sebagai perdana menteri—diperkirakan akan mencapai 42,8 triliun yen bila digabungkan dengan belanja pemerintah daerah dan sektor swasta, jauh melampaui 39 triliun yen dalam langkah serupa pada tahun sebelumnya.

Berbagai langkah dalam paket ini dirancang untuk mendukung ekonomi terbesar keempat di dunia, di tengah kekhawatiran bahwa tarif tinggi AS akan berdampak buruk bagi bisnis dan rumah tangga.

Selain langkah jangka pendek untuk menekan inflasi, pemerintah juga akan meningkatkan investasi di sektor seperti pembuatan kapal dan kecerdasan buatan—yang dianggap penting bagi penanggulangan krisis dan keamanan nasional.

Takaichi berharap investasi strategis ini juga akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi jangka panjang Jepang.

Prospek paket stimulus besar itu telah memicu pelemahan yen dan penjualan obligasi pemerintah Jepang dalam beberapa hari terakhir, karena pasar khawatir terhadap kesehatan fiskal negara, yang sudah paling lemah di antara negara maju dengan utang melebihi dua kali ukuran ekonominya.

Dalam upaya meredam kekhawatiran, Takaichi mengatakan paket ekonomi ini sesuai dengan “keberlanjutan keuangan negara.” Mengacu pada slogannya “keuangan publik yang bertanggung jawab dan proaktif,” ia mengatakan: “Kami tidak akan mengejar pengeluaran ekspansif secara sembrono.”

Untuk mendanai paket tersebut, pemerintah akan menyusun anggaran tambahan senilai 17,7 triliun yen untuk tahun fiskal saat ini yang berakhir Maret, dengan target pengesahan sebelum sesi Diet berakhir pada Desember. Jumlah ini melebihi anggaran tambahan 13,9 triliun yen tahun sebelumnya—menunjukkan dorongannya pada belanja fiskal agresif.

Beberapa tahun terakhir, anggaran tambahan Jepang selalu melampaui 10 triliun yen jauh lebih besar dibanding beberapa triliun yen sebelum pandemi COVID-19.

Meski pemerintah akan menerbitkan obligasi tambahan untuk menutup defisit, Takaichi mengatakan total penerbitan utang tahun fiskal ini kemungkinan akan di bawah 42,1 triliun yen dari tahun sebelumnya.

Paket bantuan ini diproyeksi bisa menurunkan sementara laju inflasi hingga 0,7 persen poin, sekaligus menaikkan PDB riil Jepang sebesar 24 triliun yen—atau setara 1,4% secara tahunan, menurut Kantor Kabinet Jepang.

Namun sejumlah ekonom mempertanyakan efektivitas paket ini, memperingatkan bahwa merangsang permintaan di tengah inflasi bisa memicu harga naik lebih lanjut dan memberatkan rumah tangga.

Menanggapi hal itu, Menteri Keuangan Satsuki Katayama mengatakan bahwa isi dan skala paket tidak akan memicu “inflasi tarikan permintaan (demand-pull inflation)” karena disusun untuk memenuhi kebutuhan saat ini.

Rincian paket termasuk: bantuan tunai 20.000 yen per anak (membutuhkan sekitar 400 miliar yen pembiayaan pemerintah), voucher beras atau kupon senilai 3.000 yen per orang yang akan dibagikan pemerintah daerah, penghapusan sementara pajak bensin dan peningkatan batas pendapatan bebas pajak untuk meringankan beban rumah tangga.

Pemerintah juga menyiapkan 2 triliun yen subsidi kepada pemerintah daerah agar mereka bisa meluncurkan kebijakan sendiri di tengah lonjakan harga pangan. Paket ini juga akan mengalokasikan 500 miliar yen untuk subsidi tagihan listrik dan gas selama tiga bulan pertama tahun depan yang akan mengurangi beban rumah tangga sebesar rata-rata sekitar 7.000 yen selama periode tersebut.

Sc : KN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pekerja Tewas Terbakar dalam Tradisi Pembakaran Padang Rumput di Yamaguchi

16 February 2026 - 15:10 WIB

Jepang Minta Data Kewarganegaraan Penghuni Asing Rumah Susun, Alasan Evakuasi dan Ketertiban

16 February 2026 - 14:10 WIB

3 Anak Remaja di Daerah Dotonbori Osaka Jadi Korban Penusukan, 1 Orang Meninggal

16 February 2026 - 11:10 WIB

Bus Kota Kyoto Ubah Sistem Naik-Turun Penumpang Demi Atasi Overcrowding Turis

16 February 2026 - 10:10 WIB

Kagoshima Kucurkan Rp3,5 Triliun untuk Dongkrak Pariwisata, Wisatawan Asing Jadi Kunci

14 February 2026 - 16:10 WIB

Trending on News