Salah satu tantangan terbesar dalam bahasa Jepang adalah banyaknya kata yang pengucapannya sama, tapi maknanya berbeda. Hal ini terjadi karena bahasa Jepang memiliki jumlah bunyi (suara) yang terbatas, sementara jumlah kosakatanya sangat banyak.
Perbedaan makna biasanya ditentukan oleh kanji, konteks, dan situasi pembicaraan. Bagi orang Indonesia yang belajar bahasa Jepang, kata-kata seperti ini sering menimbulkan kebingungan, apalagi saat hanya mendengarnya tanpa melihat tulisannya. Berikut beberapa contoh yang paling sering ditemui dalam kehidupan nyata.
「あう」(au)
会う – bertemu
合う – cocok / sesuai
遭う – mengalami (biasanya hal buruk)
Ketiganya dibaca au, tapi maknanya sangat berbeda. Dalam percakapan, kontekslah yang menentukan apakah seseorang sedang “bertemu”, “cocok”, atau “mengalami sesuatu”.
「かみ」(kami)
神 – Tuhan / dewa
紙 – kertas
髪 – rambut
Ini contoh klasik yang sering diajarkan, tapi tetap relevan. Tanpa kanji atau konteks, kata kami bisa sangat membingungkan, terutama bagi pendengar baru.
「はし」(hashi)
橋 – jembatan
箸 – sumpit
端 – ujung
Perbedaannya sering ditentukan oleh intonasi dan konteks kalimat. Orang Jepang langsung paham dari situasi, tapi bagi pembelajar asing, ini sering jadi jebakan.
「なおす」(naosu)
直す – memperbaiki
治す – menyembuhkan
Dalam bahasa Indonesia, “memperbaiki” dan “menyembuhkan” adalah dua hal berbeda, tapi dalam bahasa Jepang bunyinya sama. Perbedaannya baru terlihat jelas saat ditulis.
「とる」(toru)
取る – mengambil
撮る – memotret
採る – memanen / mengumpulkan
Ketiganya sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Tanpa konteks, pendengar harus menebak dari situasi yang sedang dibicarakan.
「きる」(kiru)
着る – memakai (pakaian)
切る – memotong
Walaupun maknanya jauh berbeda, pengucapannya sama. Konteks kalimat menjadi penentu utama.
「あつい」(atsui)
暑い – panas (cuaca)
熱い – panas (benda / suhu)
厚い – tebal
Semua dibaca atsui, tapi dipakai dalam konteks yang sangat berbeda. Ini salah satu kata yang paling sering membingungkan pemula.
「みる」(miru)
見る – melihat
観る – menonton
診る – memeriksa (dokter)
Dalam percakapan sehari-hari, biasanya ditulis dengan kanji paling umum (見る), tapi makna spesifiknya ditentukan oleh konteks.
「かえる」(kaeru)
帰る – pulang
変える – mengubah
替える – mengganti
Ketiganya sering muncul dalam kehidupan sehari-hari, terutama di tempat kerja. Salah paham bisa mengubah makna kalimat secara drastis.
「あける」(akeru)
開ける – membuka
空ける – mengosongkan
Dalam percakapan lisan, perbedaannya hanya bisa dipahami dari konteks.
Kenapa Kata seperti Ini Sangat Banyak di Bahasa Jepang?
Bahasa Jepang memiliki jumlah bunyi yang relatif sedikit dibanding jumlah kosakata. Akibatnya, banyak kata berbeda yang akhirnya memiliki pelafalan yang sama. Untuk membedakannya, bahasa Jepang sangat mengandalkan:
-
kanji
-
konteks kalimat
-
situasi pembicaraan
Karena itu, memahami bahasa Jepang tidak bisa hanya mengandalkan pendengaran atau terjemahan satu kata.
Pada akhirnya, kata Jepang yang kedengarannya sama tapi maknanya beda bukanlah kesalahan bahasa, melainkan ciri alami bahasa Jepang. Dengan membiasakan diri melihat konteks dan mengenal kanji dasarnya, kamu akan jauh lebih jarang salah paham dan semakin percaya diri saat menggunakan bahasa Jepang di situasi nyata.










