Menu

Dark Mode
Manga Leviathan Bakal Diadaptasi Jadi Film Live-Action, Tayang 2027 Kereta Ekspres Tabrak Pekerja di Jalur Rel Tochigi, 4 Orang Dilaporkan Tewas Pesawat Malaysia Airlines Keluarkan Asap Hitam di Narita, Lepas Landas Dibatalkan Jepang Siapkan Paket Pemulihan Gempa Kumamoto, Termasuk Diskon Wisata ke Wilayah Terdampak PM Jepang dan Presiden Turki Sepakat Tolak Pungutan Lintas di Selat Hormuz One Piece x SpongeBob Kolaborasi dengan McDonald’s, Hadir di Indonesia!

News

Kenaikan Upah Musim Semi Jepang Mulai Kuat, Tapi Tantangan Inflasi Masih Menghantui

badge-check


					Kenaikan Upah Musim Semi Jepang Mulai Kuat, Tapi Tantangan Inflasi Masih Menghantui Perbesar

Negosiasi upah tahunan Jepang, yang dikenal sebagai shuntō atau “spring offensive,” menunjukkan awal yang kuat tahun ini. Federasi Serikat Buruh terbesar di Jepang, Rengo, melaporkan bahwa kesepakatan awal telah mencapai kenaikan rata-rata 5,46%, termasuk bonus. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang mencapai 5,28%, tertinggi dalam 30 tahun.

Menurut Yoshiki Shinke, ekonom senior di Dai-Ichi Life Research Institute, hasil awal ini menunjukkan tren positif dalam negosiasi upah tahun ini. Finalisasi angka rata-rata kenaikan gaji akan diumumkan sekitar musim panas, dan kemungkinan besar tetap di atas 5% untuk tahun kedua berturut-turut.

Dampak terhadap Kebijakan Bank Sentral

Bank of Japan (BOJ) sangat memperhatikan hasil negosiasi ini karena kenaikan upah yang berkelanjutan merupakan faktor kunci dalam kebijakan moneter mereka. Gubernur BOJ, Kazuo Ueda, mencatat bahwa momentum kenaikan gaji tidak hanya terjadi di perusahaan besar tetapi juga di perusahaan kecil dan menengah, yang menunjukkan tren positif secara luas.

Untuk serikat pekerja dengan kurang dari 300 anggota, kenaikan upah mencapai 5,09%, naik dari 4,42% tahun lalu. Meskipun lebih rendah dari angka 5,47% yang diraih serikat pekerja besar, peningkatan ini lebih signifikan di perusahaan kecil. Peningkatan mobilitas kerja juga memberikan tekanan pada perusahaan kecil untuk menaikkan upah agar tetap bisa mempertahankan pekerjanya.

Tantangan Inflasi dan Upah Riil

Namun, masih ada kekhawatiran apakah kenaikan ini akan cukup untuk meningkatkan upah riil secara berkelanjutan. Inflasi tetap menjadi faktor utama yang mempengaruhi daya beli masyarakat.

Pada Februari 2025, inflasi tercatat sebesar 3,7%, dengan harga pangan melonjak 7,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Harga beras bahkan naik lebih dari 80%, menyebabkan tekanan ekonomi bagi rumah tangga. Inflasi mencapai 4% pada Januari, sementara BOJ tetap berpendapat bahwa lonjakan harga ini lebih disebabkan oleh faktor sementara seperti pelemahan yen.

Takahide Kiuchi, ekonom di Nomura Research Institute, menyebutkan bahwa meskipun kenaikan upah tampak kuat, dampaknya terhadap upah riil masih terbatas. Ia memperkirakan bahwa upah riil tidak akan tumbuh secara stabil hingga musim panas atau bahkan lebih lama.

Meski demikian, dengan tren kenaikan gaji yang lebih merata dan tekanan dari inflasi yang diperkirakan berkurang pada akhir tahun, harapan terhadap peningkatan daya beli masyarakat Jepang tetap ada.

Sc : JT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Kereta Ekspres Tabrak Pekerja di Jalur Rel Tochigi, 4 Orang Dilaporkan Tewas

21 August 2026 - 12:10 WIB

Pesawat Malaysia Airlines Keluarkan Asap Hitam di Narita, Lepas Landas Dibatalkan

21 August 2026 - 12:10 WIB

Jepang Siapkan Paket Pemulihan Gempa Kumamoto, Termasuk Diskon Wisata ke Wilayah Terdampak

21 August 2026 - 10:10 WIB

PM Jepang dan Presiden Turki Sepakat Tolak Pungutan Lintas di Selat Hormuz

20 August 2026 - 13:10 WIB

Zion Suzuki Pindah ke Aston Villa, Kiper Jepang Kini Main di Premier League

20 August 2026 - 10:10 WIB

Trending on News