Menu

Dark Mode
WN China Ditangkap karena Jalankan Taksi Ilegal di Jepang, Raup Ratusan Juta Yen WNI di Jepang Ditangkap Lagi, Diduga Bunuh Bayi yang Baru Dilahirkan karena Takut Kehilangan Pekerjaan Live-Action GTO Kembali! Onizuka Hadapi Sekolah Era Media Sosial, Kini Tayang di Netflix Proyek Kereta Maglev Jepang Maju, Tapi Baru Bisa Beroperasi Paling Cepat Tahun 2036 Kaiji Kembali! Film Live-Action Baru Resmi Tayang Januari 2027 Manga Sometimes Even Reality Is a Lie! Resmi Dapat Adaptasi Anime, Tayang Tahun Depan

News

Kenaikan Upah Musim Semi Jepang Mulai Kuat, Tapi Tantangan Inflasi Masih Menghantui

badge-check


					Kenaikan Upah Musim Semi Jepang Mulai Kuat, Tapi Tantangan Inflasi Masih Menghantui Perbesar

Negosiasi upah tahunan Jepang, yang dikenal sebagai shuntō atau “spring offensive,” menunjukkan awal yang kuat tahun ini. Federasi Serikat Buruh terbesar di Jepang, Rengo, melaporkan bahwa kesepakatan awal telah mencapai kenaikan rata-rata 5,46%, termasuk bonus. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang mencapai 5,28%, tertinggi dalam 30 tahun.

Menurut Yoshiki Shinke, ekonom senior di Dai-Ichi Life Research Institute, hasil awal ini menunjukkan tren positif dalam negosiasi upah tahun ini. Finalisasi angka rata-rata kenaikan gaji akan diumumkan sekitar musim panas, dan kemungkinan besar tetap di atas 5% untuk tahun kedua berturut-turut.

Dampak terhadap Kebijakan Bank Sentral

Bank of Japan (BOJ) sangat memperhatikan hasil negosiasi ini karena kenaikan upah yang berkelanjutan merupakan faktor kunci dalam kebijakan moneter mereka. Gubernur BOJ, Kazuo Ueda, mencatat bahwa momentum kenaikan gaji tidak hanya terjadi di perusahaan besar tetapi juga di perusahaan kecil dan menengah, yang menunjukkan tren positif secara luas.

Untuk serikat pekerja dengan kurang dari 300 anggota, kenaikan upah mencapai 5,09%, naik dari 4,42% tahun lalu. Meskipun lebih rendah dari angka 5,47% yang diraih serikat pekerja besar, peningkatan ini lebih signifikan di perusahaan kecil. Peningkatan mobilitas kerja juga memberikan tekanan pada perusahaan kecil untuk menaikkan upah agar tetap bisa mempertahankan pekerjanya.

Tantangan Inflasi dan Upah Riil

Namun, masih ada kekhawatiran apakah kenaikan ini akan cukup untuk meningkatkan upah riil secara berkelanjutan. Inflasi tetap menjadi faktor utama yang mempengaruhi daya beli masyarakat.

Pada Februari 2025, inflasi tercatat sebesar 3,7%, dengan harga pangan melonjak 7,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Harga beras bahkan naik lebih dari 80%, menyebabkan tekanan ekonomi bagi rumah tangga. Inflasi mencapai 4% pada Januari, sementara BOJ tetap berpendapat bahwa lonjakan harga ini lebih disebabkan oleh faktor sementara seperti pelemahan yen.

Takahide Kiuchi, ekonom di Nomura Research Institute, menyebutkan bahwa meskipun kenaikan upah tampak kuat, dampaknya terhadap upah riil masih terbatas. Ia memperkirakan bahwa upah riil tidak akan tumbuh secara stabil hingga musim panas atau bahkan lebih lama.

Meski demikian, dengan tren kenaikan gaji yang lebih merata dan tekanan dari inflasi yang diperkirakan berkurang pada akhir tahun, harapan terhadap peningkatan daya beli masyarakat Jepang tetap ada.

Sc : JT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

WN China Ditangkap karena Jalankan Taksi Ilegal di Jepang, Raup Ratusan Juta Yen

23 July 2026 - 16:10 WIB

WNI di Jepang Ditangkap Lagi, Diduga Bunuh Bayi yang Baru Dilahirkan karena Takut Kehilangan Pekerjaan

23 July 2026 - 13:17 WIB

Proyek Kereta Maglev Jepang Maju, Tapi Baru Bisa Beroperasi Paling Cepat Tahun 2036

23 July 2026 - 10:10 WIB

Jepang Catat Hari “Panas Ekstrem” Pertama, Suhu Tembus 40°C dan Tewaskan Tiga Orang

22 July 2026 - 13:10 WIB

Kanada Resmi Bergabung sebagai Pengamat Proyek Jet Tempur Generasi Baru Jepang

22 July 2026 - 10:00 WIB

Trending on News