Menu

Dark Mode
WNI Cedera Saat Turun dari Gunung Fuji, Diselamatkan Tim SAR Jepang Manga Battle in 5 Seconds Kembali Hiatus karena Kondisi Kesehatan Kreatornya YOASOBI Akan Gelar Konser di Singapura pada Februari 2027 Hujan Deras Terjang Chiba, 3 Orang Dilaporkan Tewas WNI Berusia 23 Tahun Tewas Tenggelam Saat Bermain di Sungai Kanagawa, Jepang ANA Turunkan Fuel Surcharge Penerbangan Jepang–Eropa & Amerika hingga ¥10.000

News

Kenaikan Upah Musim Semi Jepang Mulai Kuat, Tapi Tantangan Inflasi Masih Menghantui

badge-check


					Kenaikan Upah Musim Semi Jepang Mulai Kuat, Tapi Tantangan Inflasi Masih Menghantui Perbesar

Negosiasi upah tahunan Jepang, yang dikenal sebagai shuntō atau “spring offensive,” menunjukkan awal yang kuat tahun ini. Federasi Serikat Buruh terbesar di Jepang, Rengo, melaporkan bahwa kesepakatan awal telah mencapai kenaikan rata-rata 5,46%, termasuk bonus. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang mencapai 5,28%, tertinggi dalam 30 tahun.

Menurut Yoshiki Shinke, ekonom senior di Dai-Ichi Life Research Institute, hasil awal ini menunjukkan tren positif dalam negosiasi upah tahun ini. Finalisasi angka rata-rata kenaikan gaji akan diumumkan sekitar musim panas, dan kemungkinan besar tetap di atas 5% untuk tahun kedua berturut-turut.

Dampak terhadap Kebijakan Bank Sentral

Bank of Japan (BOJ) sangat memperhatikan hasil negosiasi ini karena kenaikan upah yang berkelanjutan merupakan faktor kunci dalam kebijakan moneter mereka. Gubernur BOJ, Kazuo Ueda, mencatat bahwa momentum kenaikan gaji tidak hanya terjadi di perusahaan besar tetapi juga di perusahaan kecil dan menengah, yang menunjukkan tren positif secara luas.

Untuk serikat pekerja dengan kurang dari 300 anggota, kenaikan upah mencapai 5,09%, naik dari 4,42% tahun lalu. Meskipun lebih rendah dari angka 5,47% yang diraih serikat pekerja besar, peningkatan ini lebih signifikan di perusahaan kecil. Peningkatan mobilitas kerja juga memberikan tekanan pada perusahaan kecil untuk menaikkan upah agar tetap bisa mempertahankan pekerjanya.

Tantangan Inflasi dan Upah Riil

Namun, masih ada kekhawatiran apakah kenaikan ini akan cukup untuk meningkatkan upah riil secara berkelanjutan. Inflasi tetap menjadi faktor utama yang mempengaruhi daya beli masyarakat.

Pada Februari 2025, inflasi tercatat sebesar 3,7%, dengan harga pangan melonjak 7,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Harga beras bahkan naik lebih dari 80%, menyebabkan tekanan ekonomi bagi rumah tangga. Inflasi mencapai 4% pada Januari, sementara BOJ tetap berpendapat bahwa lonjakan harga ini lebih disebabkan oleh faktor sementara seperti pelemahan yen.

Takahide Kiuchi, ekonom di Nomura Research Institute, menyebutkan bahwa meskipun kenaikan upah tampak kuat, dampaknya terhadap upah riil masih terbatas. Ia memperkirakan bahwa upah riil tidak akan tumbuh secara stabil hingga musim panas atau bahkan lebih lama.

Meski demikian, dengan tren kenaikan gaji yang lebih merata dan tekanan dari inflasi yang diperkirakan berkurang pada akhir tahun, harapan terhadap peningkatan daya beli masyarakat Jepang tetap ada.

Sc : JT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

WNI Cedera Saat Turun dari Gunung Fuji, Diselamatkan Tim SAR Jepang

14 August 2026 - 15:10 WIB

Hujan Deras Terjang Chiba, 3 Orang Dilaporkan Tewas

14 August 2026 - 10:10 WIB

WNI Berusia 23 Tahun Tewas Tenggelam Saat Bermain di Sungai Kanagawa, Jepang

14 August 2026 - 06:46 WIB

ANA Turunkan Fuel Surcharge Penerbangan Jepang–Eropa & Amerika hingga ¥10.000

13 August 2026 - 17:10 WIB

Google Buka Toko Resmi Pertama di Luar AS, Lokasinya di Tokyo

13 August 2026 - 13:34 WIB

Trending on News