Lebih dari 80 persen fasilitas layanan bagi penyandang disabilitas di Jepang saat ini mengalami kekurangan tenaga kerja. Penyebab utamanya adalah upah yang lebih rendah dibandingkan dengan sektor industri lainnya, menurut survei terbaru dari sebuah organisasi pendukung penyandang disabilitas.
Dari 3.142 fasilitas yang disurvei antara Agustus hingga Oktober, sebanyak 84,2 persen mengaku mengalami kekurangan staf, mulai dari tingkat ringan hingga serius. Banyak fasilitas menyebut beban kerja pegawai semakin berat dan kualitas layanan menurun akibat kondisi tersebut, menurut Kyosaren, organisasi yang melakukan survei.
Terkait alasan sulitnya mendapatkan tenaga kerja yang cukup, 81,9 persen fasilitas menyebut rendahnya upah dibandingkan industri lain sebagai faktor utama. Sementara itu, 59,1 persen mengatakan jumlah pelamar yang memiliki keterampilan atau kualifikasi yang dibutuhkan sangat terbatas.
Beberapa fasilitas dalam survei tersebut menyatakan kesulitan menerima penyandang disabilitas berat yang membutuhkan pendampingan intensif secara individual. Ada pula penyedia layanan berskala kecil yang mengaku kekurangan dana untuk merekrut dan mempertahankan staf.
Kyosaren mendesak pemerintah untuk meningkatkan pendanaan bagi fasilitas kesejahteraan penyandang disabilitas. Namun, Kementerian Kesejahteraan Jepang menyatakan bahwa anggaran negara untuk layanan tersebut telah meningkat hingga empat kali lipat dalam 19 tahun terakhir.
Direktur Eksekutif Kyosaren, Hiroshi Ono, mengatakan bahwa organisasinya menerima banyak keluhan dari fasilitas yang berada dalam kondisi tertekan. “Pihak yang paling terdampak jika layanan memburuk adalah para pengguna layanan itu sendiri,” ujarnya.
Menurut Kyosaren, belanja publik Jepang untuk penyandang disabilitas masih tergolong rendah, yakni sekitar 0,7 hingga 1,2 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini jauh di bawah rata-rata negara anggota OECD yang berada di kisaran 2 persen.
“Untuk meningkatkan kualitas layanan kesejahteraan disabilitas di Jepang, sangat penting memastikan fasilitas-fasilitas ini dapat beroperasi secara stabil dan memberikan dukungan yang benar-benar dibutuhkan oleh penyandang disabilitas,” kata Kyosaren.
Sc : JT







