Menu

Dark Mode
Kenapa Banyak Orang Indonesia Sakit Saat Winter di Jepang? Bandai Spirits Umumkan Model Kit Patlabor EZY, Anime Baru Debut dalam Format Film Mulai Mei 2026 Kosakata Jepang Saat Mau Bilang “Mungkin Lain Kali” GAME FREAK Umumkan Beast of Reincarnation, Action RPG Berlatar Jepang Pasca-Apokaliptik, Rilis Musim Panas Ini Pria Ditangkap Karena Diduga Membunuh Mantan Pacar Hamil di Ibaraki Nintendo Umumkan Super Mario Bros. Wonder Nintendo Switch 2 Edition, Rilis 26 Maret dengan Karakter dan Mode Baru

News

Lebih dari 80% Fasilitas Disabilitas di Jepang Kekurangan Tenaga Kerja

badge-check


					Lebih dari 80% Fasilitas Disabilitas di Jepang Kekurangan Tenaga Kerja Perbesar

Lebih dari 80 persen fasilitas layanan bagi penyandang disabilitas di Jepang saat ini mengalami kekurangan tenaga kerja. Penyebab utamanya adalah upah yang lebih rendah dibandingkan dengan sektor industri lainnya, menurut survei terbaru dari sebuah organisasi pendukung penyandang disabilitas.

Dari 3.142 fasilitas yang disurvei antara Agustus hingga Oktober, sebanyak 84,2 persen mengaku mengalami kekurangan staf, mulai dari tingkat ringan hingga serius. Banyak fasilitas menyebut beban kerja pegawai semakin berat dan kualitas layanan menurun akibat kondisi tersebut, menurut Kyosaren, organisasi yang melakukan survei.

Terkait alasan sulitnya mendapatkan tenaga kerja yang cukup, 81,9 persen fasilitas menyebut rendahnya upah dibandingkan industri lain sebagai faktor utama. Sementara itu, 59,1 persen mengatakan jumlah pelamar yang memiliki keterampilan atau kualifikasi yang dibutuhkan sangat terbatas.

Beberapa fasilitas dalam survei tersebut menyatakan kesulitan menerima penyandang disabilitas berat yang membutuhkan pendampingan intensif secara individual. Ada pula penyedia layanan berskala kecil yang mengaku kekurangan dana untuk merekrut dan mempertahankan staf.

Kyosaren mendesak pemerintah untuk meningkatkan pendanaan bagi fasilitas kesejahteraan penyandang disabilitas. Namun, Kementerian Kesejahteraan Jepang menyatakan bahwa anggaran negara untuk layanan tersebut telah meningkat hingga empat kali lipat dalam 19 tahun terakhir.

Direktur Eksekutif Kyosaren, Hiroshi Ono, mengatakan bahwa organisasinya menerima banyak keluhan dari fasilitas yang berada dalam kondisi tertekan. “Pihak yang paling terdampak jika layanan memburuk adalah para pengguna layanan itu sendiri,” ujarnya.

Menurut Kyosaren, belanja publik Jepang untuk penyandang disabilitas masih tergolong rendah, yakni sekitar 0,7 hingga 1,2 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini jauh di bawah rata-rata negara anggota OECD yang berada di kisaran 2 persen.

“Untuk meningkatkan kualitas layanan kesejahteraan disabilitas di Jepang, sangat penting memastikan fasilitas-fasilitas ini dapat beroperasi secara stabil dan memberikan dukungan yang benar-benar dibutuhkan oleh penyandang disabilitas,” kata Kyosaren.

Sc : JT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pria Ditangkap Karena Diduga Membunuh Mantan Pacar Hamil di Ibaraki

23 January 2026 - 15:10 WIB

Siswa Kejuruan Asal Indonesia Ditangkap Polisi Takamatsu, Jepang atas Dugaan Pemerkosaan

23 January 2026 - 12:10 WIB

Rencana Pemotongan Pajak Makanan PM Sanae Takaichi Picu Kekhawatiran Menurunnya Pendapatan Negara Jepang

23 January 2026 - 10:10 WIB

Kereta Shinkansen Tambahan Beroperasi Setelah Penerbangan Dibatalkan Akibat Salju Tebal

23 January 2026 - 07:10 WIB

Jepang untuk Pertama Kalinya Beri Dukungan Pengisian Bahan Bakar Pesawat Militer Korea Selatan, Sinyal Menguatnya Kerja Sama Pertahanan

22 January 2026 - 14:10 WIB

Trending on News