Para menteri luar negeri negara-negara G7 sepakat dalam pembicaraan melalui telepon pada Rabu untuk bekerja sama secara erat dalam menyikapi situasi di Venezuela serta berbagai isu internasional lainnya, menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Jepang.
Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi menegaskan pentingnya pemulihan demokrasi di Venezuela tanpa penundaan. Ia juga menekankan sikap konsisten Jepang dalam menjunjung nilai dan prinsip fundamental seperti kebebasan, demokrasi, dan supremasi hukum.
Jepang, yang merupakan sekutu keamanan utama Amerika Serikat, hingga kini belum menyatakan sikap resminya terkait serangan militer AS terhadap Venezuela pada akhir pekan lalu, yang kemudian diikuti dengan penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
Dalam konferensi telepon yang berlangsung sekitar 45 menit, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memaparkan perkembangan terbaru serta prospek ke depan terkait situasi di Venezuela kepada para mitranya, menurut keterangan Kementerian Luar Negeri Jepang.
Rubio juga menekankan pentingnya pembebasan tahanan politik, penciptaan kondisi yang memungkinkan berjalannya demokrasi secara fungsional, serta perencanaan pemilu di masa depan dengan presiden yang dipilih secara sah oleh rakyat Venezuela. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand dalam pernyataan yang diunggah di platform media sosial X.
Terkait perang Rusia di Ukraina, Motegi menyatakan bahwa Jepang akan terus bekerja sama dengan komunitas internasional untuk mewujudkan perdamaian yang adil dan berkelanjutan bagi Ukraina.
Selain Jepang dan Amerika Serikat, G7 juga terdiri dari Inggris, Prancis, Jerman, Italia, serta Uni Eropa.
Sc : mainichi








