Menu

Dark Mode
Sekuel “Godzilla Minus One” Resmi Diumumkan, Berlatar 1949 dan Tayang 2026 Suntory Akuisisi Perusahaan Obat Jepang Rp25 Triliun, Bidik Bisnis Kesehatan Bocah 11 Tahun yang Hilang di Kyoto Ditemukan Meninggal, Polisi Selidiki Dugaan Kejahatan Witch and Mercenary” Resmi Jadi Anime, Tayang 2027 di TV Jepang Paviliun Indonesia Hadir di Fashion World Tokyo 2026, Raih Penghargaan Desain Jepang Studio KAI Dilaporkan Alami Kondisi Insolvensi Usai Catat Rugi Besar di Tahun Fiskal 2025

News

Pembayaran Gaji Digital Masih Jarang Digunakan di Jepang, Meski Sudah Disetujui Dua Tahun Lalu

badge-check


					Pembayaran Gaji Digital Masih Jarang Digunakan di Jepang, Meski Sudah Disetujui Dua Tahun Lalu Perbesar

Pembayaran gaji secara digital melalui aplikasi smartphone dan metode serupa masih belum banyak dimanfaatkan di Jepang, dengan tingkat penggunaan kurang dari 3% menurut survei terbaru, meskipun sistem ini telah disetujui sejak dua tahun lalu sebagai bagian dari inisiatif cashless pemerintah.

Metode ini memungkinkan perusahaan untuk mentransfer gaji melalui penyedia layanan pembayaran digital seperti PayPay, sehingga karyawan dapat langsung menggunakan penghasilan mereka melalui aplikasi. Pemerintah menyetujui metode ini pada April 2023 untuk memperluas layanan pembayaran tanpa tunai dan mendorong pertumbuhan industri fintech. Namun, perusahaan harus memiliki perjanjian manajemen-karyawan dan persetujuan individu dari karyawan sebelum menerapkan sistem ini.

Survei yang dilakukan oleh perusahaan riset pasar MMD Labo Inc. yang berbasis di Tokyo pada 27 Februari hingga 3 Maret terhadap 20.000 orang berusia 18 hingga 69 tahun menunjukkan bahwa meskipun 61,9% responden mengetahui tentang pembayaran gaji digital, hanya 2,8% yang menggunakannya. Dari 4.215 responden yang menyatakan tertarik mencoba, sebanyak 21,1% mengatakan akan menggunakan layanan ini jika dikaitkan dengan sistem poin reward seperti milik Rakuten atau PayPay.

Dari 19.450 responden yang belum menggunakan layanan ini, hanya 16,3% (3.184 orang) yang berencana menggunakannya di masa depan. Alasan utama ketertarikan termasuk: menghindari antrean ATM, mendapatkan poin, dan kemudahan dalam mengelola uang.

Adopsi yang lambat dari pihak perusahaan juga menjadi penyebab rendahnya penggunaan. Survei lain oleh Teikoku Databank Ltd. pada Oktober 2024 terhadap 1.479 perusahaan menunjukkan bahwa 88,8% perusahaan tidak memiliki rencana untuk membayar gaji secara digital, dan hanya 3,9% yang menyambut positif sistem ini. Kekhawatiran mereka termasuk beban operasional tambahan dan risiko keamanan.

Sebaliknya, beberapa perusahaan mulai menerapkan sistem pembayaran gaji digital untuk mengurangi biaya transfer dan meningkatkan kepuasan karyawan. Yoshinoya Co., salah satu operator restoran beef bowl terbesar di Jepang, memutuskan untuk memberikan opsi kepada sekitar 20.000 karyawan paruh waktunya agar dapat menerima gaji mereka melalui PayPay mulai bulan ini. Mereka juga dapat menerima sebagian gaji sebelum tanggal gajian.

Juru bicara Yoshinoya mengatakan, “Sebagian besar karyawan paruh waktu kami adalah anak muda. Kami memperkenalkan sistem ini sebagai bagian dari benefit bagi generasi muda yang sudah terbiasa dengan aplikasi pembayaran. Dengan meningkatkan kenyamanan bagi mereka, kami berharap dapat meningkatkan retensi sumber daya manusia.”

Sc : mainichi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Suntory Akuisisi Perusahaan Obat Jepang Rp25 Triliun, Bidik Bisnis Kesehatan

16 April 2026 - 14:10 WIB

Bocah 11 Tahun yang Hilang di Kyoto Ditemukan Meninggal, Polisi Selidiki Dugaan Kejahatan

16 April 2026 - 11:10 WIB

Paviliun Indonesia Hadir di Fashion World Tokyo 2026, Raih Penghargaan Desain Jepang

16 April 2026 - 06:44 WIB

Jepang Batasi Power Bank di Pesawat, Maksimal 2 Unit per Penumpang

15 April 2026 - 12:10 WIB

Jepang Hentikan Sementara Visa Pekerja Asing di Sektor Restoran, Kuota Hampir Penuh

15 April 2026 - 12:10 WIB

Trending on News