Menu

Dark Mode
Survei Pemerintah Jepang: 40% Guru SMP Bekerja Lembur Melebihi Batas Hukum Film Live-Action “In the Clear Moonlit Dusk” Umumkan Tanggal Tayang 23 Oktober Mulai Dijual Bebas, Pil Pencegah Kehamilan di Jepang Bisa Dibeli di Beberapa Apotek Tanpa Resep Dokter Jepang Kirim Peralatan Rudal Jarak Jauh ke Kumamoto, Tandai Perubahan Kebijakan Pertahanan Gereja Unifikasi Ajukan Banding Khusus ke Mahkamah Agung Jepang atas Perintah Pembubaran Kata Jepang yang Dipakai Saat Menenangkan Orang

News

Rencana Pemotongan Pajak Makanan PM Sanae Takaichi Picu Kekhawatiran Menurunnya Pendapatan Negara Jepang

badge-check


					Rencana Pemotongan Pajak Makanan PM Sanae Takaichi Picu Kekhawatiran Menurunnya Pendapatan Negara Jepang Perbesar

Rencana Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi untuk memangkas pajak atas pembelian makanan berisiko menurunkan penerimaan negara dan melemahkan kondisi keuangan Jepang dalam jangka panjang. Peringatan tersebut disampaikan oleh S&P Global Ratings, menandai meningkatnya kekhawatiran lembaga pemeringkat itu terhadap kebijakan fiskal Jepang.

Direktur pemeringkatan sovereign S&P Global Ratings yang berbasis di Singapura, Rain Yin, mengatakan bahwa risiko dari pemotongan pajak termasuk pajak penjualan pada beberapa komoditas—bukanlah dampak sesaat. Menurutnya, kebijakan tersebut justru akan menurunkan pendapatan pemerintah secara berkelanjutan.

Ia menjelaskan bahwa di tengah meningkatnya komponen belanja struktural pemerintah, pemotongan pajak semacam itu berpotensi semakin memperburuk kondisi fiskal Jepang, terutama jika pertumbuhan ekonomi dan penerimaan negara melemah.

Pernyataan S&P ini memperkuat kekhawatiran pasar bahwa janji pemangkasan pajak konsumsi, yang digulirkan menjelang pemilu, dapat memberi tekanan jangka panjang terhadap stabilitas keuangan Jepang yang saat ini sudah dibebani oleh utang publik yang sangat besar dan biaya sosial akibat populasi yang menua.

Janji Takaichi untuk menangguhkan pajak makanan sebesar 8% selama dua tahun semakin mengguncang pasar. Kebijakan ini diperkirakan akan mengurangi penerimaan negara sekitar 5 triliun yen per tahun, setara dengan anggaran pendidikan nasional. Takaichi sendiri menyebut kebijakan ini sebagai “impian lamanya”, namun belum menjelaskan secara rinci bagaimana kekurangan penerimaan tersebut akan ditutup.

Kekhawatiran makin besar karena struktur anggaran Jepang yang rapuh. Hampir 60% anggaran negara dihabiskan untuk jaminan sosial dan biaya pembiayaan utang, dua pos yang dipastikan terus meningkat seiring penuaan penduduk. Dalam rancangan anggaran 2026 sebesar 122 triliun yen, sekitar seperempat dibiayai dengan penerbitan utang dan hampir 22% berasal dari pajak konsumsi—sumber pajak terbesar Jepang.

Para ekonom menilai pemotongan pajak konsumsi sangat berisiko. Kepala ekonom Norinchukin Research Institute, Takeshi Minami, menegaskan bahwa pemotongan pajak sebesar 5 triliun yen, meskipun hanya dua tahun, sangat sulit untuk dibalikkan begitu diberlakukan.

Sc : reuters, JT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Survei Pemerintah Jepang: 40% Guru SMP Bekerja Lembur Melebihi Batas Hukum

10 March 2026 - 18:00 WIB

Mulai Dijual Bebas, Pil Pencegah Kehamilan di Jepang Bisa Dibeli di Beberapa Apotek Tanpa Resep Dokter

10 March 2026 - 13:42 WIB

Jepang Kirim Peralatan Rudal Jarak Jauh ke Kumamoto, Tandai Perubahan Kebijakan Pertahanan

10 March 2026 - 11:10 WIB

Gereja Unifikasi Ajukan Banding Khusus ke Mahkamah Agung Jepang atas Perintah Pembubaran

10 March 2026 - 10:10 WIB

Jepang Rencanakan Penghapusan Pemeriksaan Tatap Muka bagi Turis Asing untuk Percepat Proses Imigrasi

9 March 2026 - 11:10 WIB

Trending on News