Sejumlah perusahaan besar di Jepang melaporkan kebocoran data setelah sistem mereka mengalami akses tanpa izin. Perusahaan yang terdampak antara lain produsen minuman Suntory, perusahaan teknologi Paycloud Holdings, peritel elektronik Nojima, dan Marui Group.
Suntory Holdings mengungkapkan bahwa data sekitar 100.000 orang, termasuk karyawan, bocor setelah pihak tidak berwenang berhasil mengakses layanan penyimpanan cloud eksternal yang digunakan perusahaan.
Data yang bocor mencakup nama dan alamat email sekitar 90.000 karyawan dari perusahaan dalam grup Suntory dan perusahaan afiliasinya. Selain itu, alamat email sekitar 7.300 peserta program pengalaman kerja perusahaan hingga akhir 2023 serta nama sekitar 7.200 pelamar kerja baru untuk tahun 2026 juga ikut terdampak.
Suntory mendeteksi aktivitas mencurigakan pada layanan cloud Microsoft pada Rabu. Perusahaan kemudian mengambil tindakan untuk menghentikan akses tanpa izin tersebut. Hingga pengumuman dibuat, Suntory menyatakan belum menemukan bukti bahwa data yang bocor telah disalahgunakan.
Kasus lainnya terjadi pada Paycloud Holdings, perusahaan teknologi Jepang. Sekitar 77 juta alamat email dilaporkan bocor akibat serangan siber terhadap anak perusahaannya, Arara Inc., yang mengoperasikan layanan pengiriman email bernama Arara Message.
Selain alamat email, data yang bocor juga mencakup nama, jenis kelamin, dan tanggal lahir pelanggan yang terdaftar melalui perusahaan pengguna layanan tersebut. Namun, informasi kartu kredit tidak termasuk dalam data yang bocor.
Paycloud menjelaskan bahwa angka 77 juta merupakan jumlah alamat email, bukan jumlah orang yang terdampak. Sebab, satu orang bisa memiliki lebih dari satu alamat email. Kebocoran ini berkaitan dengan data dari hingga sekitar 380 perusahaan klien.
Arara juga mengungkapkan bahwa layanan email tersebut telah disalahgunakan untuk mengirim sekitar 7,13 juta pesan yang menyamar sebagai email dari perusahaan kartu kredit. Email tersebut dikirim ke berbagai alamat eksternal. Layanan Arara Message telah dihentikan sementara sejak Sabtu, dan perusahaan masih memeriksa keamanan sistem sebelum memutuskan kapan layanan dapat beroperasi kembali.
Sementara itu, Nojima Corp., perusahaan ritel elektronik, melaporkan kebocoran data sekitar 7 juta pelanggan terdaftar. Insiden ini terjadi setelah pihak tidak berwenang mengakses sistem pengelolaan anggota di situs belanja online milik perusahaan. Informasi yang bocor mencakup nama dan alamat pelanggan.
Kasus lain juga dialami Marui Group, perusahaan yang bergerak di bidang ritel dan layanan keuangan. Data hingga 9.086 orang yang mendaftar untuk pembelian obligasi digital bocor akibat akses tanpa izin terhadap perusahaan yang dipercaya mengelola layanan tersebut.
Informasi yang terdampak mencakup data pribadi para pendaftar. Bahkan, nomor rekening bank milik 54 orang di antaranya kemungkinan ikut bocor.
Rangkaian kasus ini kembali menyoroti risiko keamanan data pribadi di perusahaan Jepang. Kebocoran tidak hanya terjadi pada sistem internal perusahaan, tetapi juga dapat melibatkan layanan cloud maupun perusahaan pihak ketiga yang dipercaya mengelola data pelanggan.
Sc : KN








