Sebanyak 30,2 persen perusahaan besar di Jepang pernah mengalami kebocoran data atau dugaan kebocoran data, baik akibat serangan siber maupun kesalahan manusia. Temuan ini berdasarkan survei yang dirilis perusahaan riset Teikoku Databank pada Senin.
Jika mencakup seluruh perusahaan yang disurvei, termasuk usaha kecil dan menengah, sebanyak 16,2 persen responden mengaku pernah mengalami kebocoran data atau kemungkinan kebocoran data.
Survei tersebut juga menemukan bahwa 5,5 persen perusahaan mengalami kebocoran data atau dugaan kebocoran data dalam satu tahun terakhir. Sementara itu, 14,8 persen perusahaan mengaku tidak mengetahui apakah mereka pernah mengalami insiden serupa. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian perusahaan belum memiliki pemahaman yang jelas mengenai kemungkinan kebocoran data yang terjadi.
Sejumlah perusahaan menyebut kesalahan manusia sebagai salah satu penyebabnya, misalnya mengirimkan email kepada penerima yang salah.
Dalam kasus lain, sebuah perusahaan mengaku menerima email yang diyakini berasal dari perwakilan perusahaan lain. Karena menganggap permintaan tersebut mendesak, mereka mengirimkan informasi tanpa terlebih dahulu melakukan konfirmasi melalui telepon.
Di sisi lain, sejumlah usaha kecil dan menengah mengaku kesulitan menerapkan langkah perlindungan data yang memadai karena keterbatasan dana dan jumlah tenaga kerja.
Survei daring ini dilakukan pada 9–14 Oktober dan memperoleh 1.328 jawaban yang dinyatakan valid.
Sc : KN








