Menu

Dark Mode
Trailer Film Live-Action “Street Fighter” Rilis, Jason Momoa Jadi Blanka! Honda Jual Mobil Listrik Buatan China di Jepang, Pertama Kalinya untuk Pasar Domestik Jalur Alpen Tateyama Kembali Dibuka, Tembok Salju Setinggi 12 Meter Jadi Daya Tarik Kasus Bocah Hilang di Kyoto Terungkap, Ayah Tiri Akui Membunuh Korban Sekuel “Godzilla Minus One” Resmi Diumumkan, Berlatar 1949 dan Tayang 2026 Suntory Akuisisi Perusahaan Obat Jepang Rp25 Triliun, Bidik Bisnis Kesehatan

News

Survei: Lebih dari 40% Orang Jepang Ingin Pertahankan Nama Asli di Tempat Kerja Setelah Menikah

badge-check


					Survei: Lebih dari 40% Orang Jepang Ingin Pertahankan Nama Asli di Tempat Kerja Setelah Menikah Perbesar

Sebuah survei yang dilakukan oleh Kantor Kabinet Jepang pada Selasa (30/1) mengungkapkan bahwa lebih dari 40% orang Jepang ingin terus menggunakan nama asli mereka di tempat kerja setelah menikah. Hasil ini muncul di tengah perdebatan parlemen tentang apakah pasangan menikah diizinkan untuk memiliki nama keluarga terpisah.

Survei tersebut, yang melibatkan responden pria dan wanita, menunjukkan bahwa 43,3% ingin mempertahankan nama asli mereka, meningkat 4,2 poin dari survei 2023. Sementara itu, 55,2% mengatakan mereka “tidak ingin menggunakan nama asli.”

Dilihat dari kelompok usia, responden berusia 30-an paling mendukung penggunaan nama asli di tempat kerja, dengan persentase 57,8%. Responden tidak ditanya apakah mereka mendukung opsi nama keluarga terpisah untuk pasangan menikah, karena pertanyaan tersebut akan diajukan dalam jajak pendapat lain oleh Kementerian Kehakiman.

Survei ini dilakukan antara September dan November tahun lalu. Hasilnya mungkin dipengaruhi oleh pemilihan presiden Partai Demokratik Liberal (LDP) yang berkuasa pada September, di mana isu nama keluarga terpisah menjadi topik perdebatan sengit di sidang parlemen.

Dari segi gender, 47,7% responden pria dan 39,6% responden wanita mendukung penggunaan nama asli di tempat kerja, masing-masing meningkat 3,5 poin dan 4,9 poin dari survei sebelumnya.

Untuk kelompok usia lain, 48,2% responden berusia 50-an48,0% responden berusia 40-an, dan 45,2% responden berusia 18-29 tahun juga mendukung penggunaan nama asli.

Ketika ditanya apakah mereka percaya masyarakat Jepang memperlakukan pria dan wanita secara setara, hanya 16,7% yang setuju. Sementara itu, dalam hal kesetaraan gender di politik, 9,4% mengatakan kesetaraan ada, sedangkan 87,9% percaya bahwa pria mendapat perlakuan istimewa.

Survei ini melibatkan 5.000 pria dan wanita berusia 18 tahun ke atas, dengan tingkat respons sekitar 53,3%. Sebelum pandemi COVID-19, survei dilakukan secara tatap muka hingga 2019, dan sejak survei terakhir pada 2023, survei dilakukan melalui pos.

Hasil ini mencerminkan perubahan sikap masyarakat Jepang terhadap tradisi dan norma sosial, terutama dalam hal kesetaraan gender dan hak individu.

Sc : KN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Jalur Alpen Tateyama Kembali Dibuka, Tembok Salju Setinggi 12 Meter Jadi Daya Tarik

17 April 2026 - 10:10 WIB

Kasus Bocah Hilang di Kyoto Terungkap, Ayah Tiri Akui Membunuh Korban

17 April 2026 - 09:42 WIB

Suntory Akuisisi Perusahaan Obat Jepang Rp25 Triliun, Bidik Bisnis Kesehatan

16 April 2026 - 14:10 WIB

Bocah 11 Tahun yang Hilang di Kyoto Ditemukan Meninggal, Polisi Selidiki Dugaan Kejahatan

16 April 2026 - 11:10 WIB

Paviliun Indonesia Hadir di Fashion World Tokyo 2026, Raih Penghargaan Desain Jepang

16 April 2026 - 06:44 WIB

Trending on News