Mengatakan “nanti dulu” terdengar sederhana, tapi dalam bahasa Jepang, ungkapan ini punya banyak nuansa. Salah pilih kata, maksudnya ingin menunda dengan sopan, tapi yang tertangkap justru kesan menolak atau tidak tertarik.
Orang Jepang cenderung menghindari penolakan langsung. Karena itu, ungkapan “nanti dulu” biasanya disampaikan dengan bahasa yang lembut, samar, dan memberi ruang tanpa membuat suasana jadi canggung. Berikut beberapa ungkapan yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
「後でお願いします」
Romaji: Ato de onegaishimasu
Ungkapan ini termasuk yang paling aman dan sopan.
Artinya “tolong nanti saja.” Cocok dipakai saat sedang sibuk, misalnya di kantor atau saat ada orang meminta bantuan. Nada kalimatnya tetap kooperatif, bukan menolak.
「少し待ってもらえますか」
Romaji: Sukoshi matte moraemasu ka
Ungkapan ini berarti “bisa tunggu sebentar?”
Dipakai saat penundaannya singkat. Kalimat ini terdengar sopan dan ramah karena kamu secara eksplisit meminta pengertian dari lawan bicara.
「今はちょっと…」
Romaji: Ima wa chotto…
Ini ungkapan khas Jepang yang sangat sering dipakai.
Secara harfiah artinya “sekarang agak…”, tapi maknanya adalah “sekarang belum bisa.” Biasanya kalimat ini tidak perlu dilanjutkan karena lawan bicara sudah paham maksudnya.
「また後で話しましょう」
Romaji: Mata ato de hanashimashou
Artinya “nanti kita bicarakan lagi.”
Ungkapan ini cocok dipakai saat kamu ingin menunda pembicaraan tanpa menutup kemungkinan untuk membahasnya di lain waktu. Terdengar ramah dan menjaga hubungan baik.
「今は難しいです」
Romaji: Ima wa muzukashii desu
Ungkapan ini berarti “sekarang agak sulit.”
Nada kalimatnya sopan dan sering dipakai di lingkungan kerja atau situasi formal. Ini bukan penolakan mutlak, tapi lebih ke penundaan dengan alasan kondisi.
Ungkapan yang Perlu Hati-hati Dipakai
「後で」
Romaji: Ato de
Secara arti memang “nanti”, tapi kalau diucapkan terlalu singkat atau tanpa nada sopan, bisa terdengar dingin. Sebaiknya ditambah onegaishimasu atau diucapkan dengan intonasi lembut.
Pada akhirnya, mengatakan “nanti dulu” dalam bahasa Jepang bukan cuma soal terjemahan kata, tapi soal sikap. Dengan memilih ungkapan yang tepat, kamu bisa menunda tanpa menolak, menjaga hubungan tanpa harus memaksakan diri. Itulah salah satu ciri khas komunikasi ala Jepang yang halus tapi penuh makna.










