Gempa berkekuatan Magnitudo 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto tidak hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga mengubah kehidupan ribuan warga yang kini harus bertahan di tempat pengungsian.
Di tengah situasi sulit tersebut, kisah saling membantu antara warga Jepang dan warga negara Indonesia (WNI) menjadi salah satu secercah harapan.
Salah satunya adalah Davina Putri (22), peserta magang asal Indonesia yang telah bekerja di sebuah perkebunan stroberi di Kota Hikawa selama dua tahun.
“Guncangannya adalah yang paling kuat yang pernah saya rasakan seumur hidup. Sangat menakutkan,” ujar Davina.
Saat gempa terjadi pada Selasa, Davina sedang beristirahat di rumah setelah bekerja. Guncangan membuat perabotan di kamarnya roboh dan peralatan makan berserakan di lantai.
Meski rumahnya tidak runtuh dan ia tidak mengalami luka, hingga kini listrik dan air bersih masih belum mengalir sehingga ia bersama tiga peserta magang asal Indonesia lainnya memilih mengungsi di Sekolah Dasar Ryuhokuhigashi, yang saat ini menampung sekitar 109 pengungsi.
Davina mengaku sangat bersyukur karena tempat pengungsian memiliki pendingin ruangan sehingga para pengungsi bisa beristirahat dengan lebih nyaman di tengah suhu musim panas yang tinggi.
“Saya benar-benar bersyukur bisa makan dan tidur dengan nyaman. Semua ini berkat bantuan dan dukungan masyarakat setempat,” katanya.
Menggunakan bahasa Jepang yang dipelajarinya selama bekerja, Davina berkomunikasi dengan petugas balai kota dan para pengungsi lainnya.
Ia mengatakan para WNI dan warga Jepang di pengungsian saling menguatkan dan berbincang bersama untuk mengurangi rasa takut akibat gempa susulan yang masih terus terjadi.
Meski begitu, ia mengaku masih sering terbangun saat malam hari karena merasakan getaran gempa susulan.
“Saya takut kalau gempa besar terjadi lagi. Saya hanya berharap bisa segera pulang dan kembali bekerja.”
Di sisi lain, pasangan petani anggur Keisuke Morita (42) dan istrinya Misato (36) datang ke tempat pengungsian membawa beberapa kotak anggur untuk dibagikan kepada para korban.
Buah tersebut merupakan hasil panen yang tidak sempat terjual setelah gempa terjadi.
Misato menceritakan bahwa guncangan kali ini bahkan membuat mereka sulit berdiri, meski pernah mengalami gempa besar Kumamoto pada tahun 2016.
Kini keluarga mereka juga harus tidur di dalam mobil karena rumah masih berantakan dan belum bisa ditempati.
“Kami hanya ingin kehidupan normal kembali secepat mungkin, bisa makan makanan hangat di rumah dan tidur di tempat tidur kami sendiri,” ujar Morita.
Sc : JT








