Dalam komunikasi sehari-hari, seringkali kita membutuhkan waktu untuk berpikir sebelum mengambil keputusan atau memberikan jawaban. Dalam bahasa Indonesia, kita biasa mengatakan “Aku butuh waktu” atau “Saya perlu waktu untuk memikirkannya”. Lalu, bagaimana cara mengungkapkan hal yang sama dalam bahasa Jepang?
Berikut adalah beberapa cara umum untuk menyampaikan bahwa Anda membutuhkan waktu, disesuaikan dengan situasi dan tingkat kesopanan yang diperlukan.
1. Ungkapan Formal (Untuk Situasi Profesional atau dengan Atasan)
a. 少し考えさせてください。
Pelafalan: Sukoshi kangaesasete kudasai
Arti: “Tolong beri saya waktu sebentar untuk memikirkannya.”
Penggunaan: Sangat sopan dan profesional, cocok untuk rapat bisnis atau percakapan dengan atasan.
b. 検討させていただけますか。
Pelafalan: Kentō sasete itadakemasu ka
Arti: “Bolehkah saya mempertimbangkannya?”
Penggunaan: Formal dan sangat hormat, menunjukkan bahwa Anda akan mempertimbangkan dengan serius.
c. 時間をいただけますでしょうか。
Pelafalan: Jikan o itadakemasu deshō ka
Arti: “Bisakah saya meminta waktu?”
Penggunaan: Permintaan yang sangat sopan, sering digunakan dalam email atau komunikasi profesional.
2. Ungkapan Semi-Formal (Untuk Rekan Kerja atau Situasi Sehari-hari)
a. ちょっと考えさせてください。
Pelafalan: Chotto kangaesasete kudasai
Arti: “Tolong beri saya waktu sedikit untuk berpikir.”
Penggunaan: Sopan namun cukup santai, cocok untuk kebanyakan situasi kerja.
b. 考えてみます。
Pelafalan: Kangaete mimasu
Arti: “Saya akan coba memikirkannya.”
Penggunaan: Respons yang umum dan sopan ketika membutuhkan waktu untuk memutuskan.
c. 後で返事してもいいですか。
Pelafalan: Ato de henji shite mo ii desu ka
Arti: “Bolehkah saya membalas nanti?”
Penggunaan: Ketika Anda membutuhkan waktu sebelum memberikan jawaban.
3. Ungkapan Kasual (Untuk Teman atau Keluarga)
a. ちょっと考えさせて。
Pelafalan: Chotto kangaesasete
Arti: “Biar aku berpikir dulu sebentar.”
Penggunaan: Santai, untuk teman dekat atau keluarga.
b. 時間が欲しいな。
Pelafalan: Jikan ga hoshii na
Arti: “Aku butuh waktu.”
Penggunaan: Ungkapan langsung dan kasual.
c. あとで答えるね。
Pelafalan: Ato de kotaeru ne
Arti: “Nanti aku jawab, ya.”
Penggunaan: Santai dan umum digunakan.
4. Nuansa Budaya yang Perlu Diperhatikan
Orang Jepang cenderung menghindari penolakan langsung. Mengatakan bahwa Anda butuh waktu sering kali merupakan cara yang sopan untuk:
-
Menunda keputusan sulit
-
Menghindari mengatakan “tidak” secara langsung
-
Menunjukkan bahwa Anda serius mempertimbangkan permintaan atau proposal
Dalam konteks bisnis, permintaan waktu biasanya dipandang sebagai sikap yang bertanggung jawab daripada keraguan.
5. Contoh Percakapan
Skenario 1 (Formal):
A: このプロジェクトに参加していただけませんか?
(Kono purojekuto ni sanka shite itadakemasen ka?)
“Bisakah Anda bergabung dalam proyek ini?”
B: ありがとうございます。少し検討させていただけますか?
(Arigatō gozaimasu. Sukoshi kentō sasete itadakemasu ka?)
“Terima kasih. Bolehkah saya mempertimbangkannya sebentar?”
Skenario 2 (Kasual):
A: 明日、遊びに行かない?
(Ashita, asobi ni ikanai?)
“Besok, mau pergi jalan-jalan?”
B: うーん、ちょっと考えさせて。
(Ūn, chotto kangaesasete.)
“Hmm, biar aku pikirkan dulu sebentar.”
Dengan menguasai variasi ekspresi ini, Anda tidak hanya berkomunikasi lebih efektif, tetapi juga menunjukkan pemahaman terhadap budaya komunikasi Jepang yang menghargai kesopanan dan pertimbangan yang matang.
Ingatlah bahwa dalam banyak situasi di Jepang, meminta waktu untuk berpikir justru dianggap sebagai respons yang dewasa dan bertanggung jawab daripada memberikan jawaban terburu-buru.










