Menu

Dark Mode
Trailer Eksklusif One Piece Live-Action Season 2 Dirilis, Tayang 10 Maret di Netflix Angka Kelahiran di Jepang Anjlok ke 705 Ribu pada 2025, Terendah Sejak 1899 Kyoto Siapkan Tarif Bus Lebih Mahal untuk Turis, Bisa Dua Kali Lipat dari Warga Lokal Komposer Game Jepang Shigeru Ikeda Meninggal Dunia di Usia 57 Tahun WN Jepang Ditahan di Teheran Sejak Januari, Pemerintah Jepang Desak Iran Segera Bebaskan Shinchan Ketemu Maruko! Dua Manga Legendaris Jepang Resmi Crossover Setelah Puluhan Tahun

News

Angka Kelahiran di Jepang Anjlok ke 705 Ribu pada 2025, Terendah Sejak 1899

badge-check


					Angka Kelahiran di Jepang Anjlok ke 705 Ribu pada 2025, Terendah Sejak 1899 Perbesar

Jumlah bayi yang lahir di Jepang pada 2025 turun menjadi 705.809, angka terendah sejak pencatatan dimulai pada 1899 dan menandai rekor terendah untuk tahun ke-10 berturut-turut. Data tersebut dirilis Kementerian Kesehatan pada Kamis.

Angka kelahiran, yang termasuk bayi dari warga asing yang tinggal di Jepang, turun 2,1 persen atau 15.179 kelahiran dibandingkan 2024. Penurunan ini terjadi di tengah populasi yang semakin menua dan meningkatnya kekhawatiran soal biaya membesarkan anak akibat tekanan inflasi. Meski demikian, laju penurunan melambat dibandingkan tahun sebelumnya.

Para ahli menyebut selain faktor ekonomi, perubahan prioritas hidup juga berperan. Semakin banyak orang memilih menikah dan memiliki anak di usia lebih tua, atau tidak menikah sama sekali.

Penurunan populasi pun belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Data awal dari Ministry of Health, Labour and Welfare menunjukkan penurunan alami penduduk—selisih antara jumlah kelahiran dan kematian—mencapai rekor tertinggi sebesar 899.845 jiwa.

Proyeksi sebelumnya dari National Institute of Population and Social Security Research memperkirakan jumlah kelahiran tidak akan turun di bawah 710.000 hingga 2042. Namun realisasi 2025 sudah melampaui perkiraan tersebut.

Data terpisah yang dirilis Juni tahun lalu menunjukkan jumlah bayi yang lahir dari warga negara Jepang pada 2024 turun menjadi 680.000, pertama kalinya berada di bawah 700.000.

Penurunan 2,1 persen pada 2025—dibandingkan 5 persen pada 2024—diduga sebagian dipengaruhi oleh peningkatan jumlah pernikahan selama dua tahun berturut-turut. Pada 2025 tercatat 505.656 pernikahan, naik 1,1 persen dari tahun sebelumnya. Meski begitu, angka tersebut masih jauh di bawah lebih dari 600.000 pernikahan per tahun yang biasa terjadi sebelum pandemi COVID-19 pada 2019.

Seorang pejabat senior pemerintah mengakui, “Sayangnya, kami belum mampu membalikkan tren ini.”

Dari 47 prefektur di Jepang, hanya Tokyo dan Ishikawa yang mencatat kenaikan jumlah kelahiran. Di Tokyo, angka kelahiran naik 1,3 persen—kenaikan pertama dalam sembilan tahun—yang diduga dipengaruhi arus perpindahan penduduk ke ibu kota serta kebijakan dukungan pengasuhan anak dari pemerintah metropolitan.

Sementara itu, kenaikan di Ishikawa dinilai sebagai efek pemulihan setelah gempa besar yang melanda Semenanjung Noto pada Januari 2024.

Sebaliknya, 45 prefektur lainnya masih mengalami penurunan, dengan penurunan terdalam terjadi di Shimane sebesar 8,7 persen, diikuti Yamagata, Aomori, dan Nagano. Wilayah pedesaan terus kehilangan populasi karena banyak warga muda pindah ke kota untuk pendidikan dan pekerjaan.

Sepanjang 2025, Jepang mencatat 1,61 juta kematian—turun 13.030 dari tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, pada 1973 jumlah kelahiran di Jepang mencapai sekitar 2,09 juta bayi. Angka tersebut turun di bawah satu juta untuk pertama kalinya pada 2016.

Sc : KN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Kyoto Siapkan Tarif Bus Lebih Mahal untuk Turis, Bisa Dua Kali Lipat dari Warga Lokal

27 February 2026 - 10:10 WIB

WN Jepang Ditahan di Teheran Sejak Januari, Pemerintah Jepang Desak Iran Segera Bebaskan

26 February 2026 - 15:10 WIB

Pemerintah Daerah Ibaraki Siap Kasih Imbalan Tunai Bagi yang Melapor Pekerja Asing Ilegal

26 February 2026 - 12:10 WIB

Jepang Murka: China Masukkan 20 Perusahaan Pertahanan Jepang ke Daftar Larangan Ekspor

26 February 2026 - 11:10 WIB

Tokyo Skytree Dibuka Kembali Kamis Usai Insiden Lift Terjebak

26 February 2026 - 10:10 WIB

Trending on News