Menu

Dark Mode
Jepang Kaji Penggunaan Robot Humanoid Ber-AI untuk Pertahanan Non-Tempur Korban Jiwa Topan Dujuan Naik Menjadi 7 Orang, 5 Masih Hilang Innalillahi, WNI 22 Tahun Meninggal dalam Kecelakaan Kerja di Fukuyama Jepang Demo Attack on Titan 3 di Tokyo Game Show 2026 Dua Orang Dikonfirmasi Tewas di Prefektur Chiba Usai Hujan Lebat Akibat Angin Topan Dujuan Topan Dujuan Mendekati Jepang Timur, Ganggu Transportasi dan Batalkan Acara di Tengah Libur Silver Week

News

Jepang Longgarkan Aturan Ekspor Senjata, Bidik Kerja Sama Pertahanan Global

badge-check


					Armored vehicles of Japan Self-Defense Forces (JSDF) parade in formation at Ground Self-Defense Force Camp Asaka, November 9, 2024 in Asaka, Japan, as Japanese Prime Minister Shigeru Ishiba (not pictured) reviews troops of the country's Self-Defense Forces for its 70th Anniversary.    David Mareuil/Pool via REUTERS Perbesar

Armored vehicles of Japan Self-Defense Forces (JSDF) parade in formation at Ground Self-Defense Force Camp Asaka, November 9, 2024 in Asaka, Japan, as Japanese Prime Minister Shigeru Ishiba (not pictured) reviews troops of the country's Self-Defense Forces for its 70th Anniversary. David Mareuil/Pool via REUTERS

Pemerintah Jepang di bawah Perdana Menteri Sanae Takaichi resmi merevisi aturan ekspor peralatan pertahanan guna memperluas peluang penjualan ke luar negeri dan memperkuat kerja sama keamanan dengan negara mitra.

Kebijakan ini telah disetujui oleh kabinet serta Dewan Keamanan Nasional Jepang, sebagai respons terhadap situasi keamanan yang disebut paling serius sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Salah satu perubahan besar adalah penghapusan batasan lama yang hanya mengizinkan ekspor untuk lima kategori non-tempur, seperti penyelamatan, transportasi, pengawasan, dan pembersihan ranjau.

Dalam aturan baru:

  • Peralatan dibagi menjadi kategori senjata dan non-senjata berdasarkan daya mematikannya.
  • Peralatan non-senjata (seperti radar dan sistem kontrol) bisa diekspor tanpa banyak pembatasan.
  • Sementara itu, ekspor senjata (seperti rudal atau kapal perang) hanya diizinkan ke negara yang memiliki perjanjian perlindungan informasi rahasia dengan Jepang.

Meski secara prinsip Jepang tetap melarang ekspor ke negara yang sedang berkonflik, aturan baru ini membuka kemungkinan pengecualian dalam kondisi tertentu, dengan mempertimbangkan kepentingan keamanan Jepang dan operasi militer Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik.

Namun, kebijakan ini berpotensi menuai kritik. Pihak oposisi menilai bahwa parlemen seharusnya dilibatkan sebelum keputusan ekspor disetujui, untuk mencegah Jepang terlibat dalam konflik atau memicu perlombaan senjata.

Ke depan, keputusan ekspor akan ditentukan oleh Dewan Keamanan Nasional, sementara proyek besar seperti pengembangan jet tempur generasi berikutnya bersama Inggris dan Italia tetap memerlukan persetujuan kabinet.

Langkah ini menandai perubahan signifikan dalam kebijakan pertahanan Jepang yang selama puluhan tahun cenderung membatasi ekspor senjata.

Sc : VOI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Jepang Kaji Penggunaan Robot Humanoid Ber-AI untuk Pertahanan Non-Tempur

23 September 2026 - 13:10 WIB

Innalillahi, WNI 22 Tahun Meninggal dalam Kecelakaan Kerja di Fukuyama Jepang

22 September 2026 - 18:27 WIB

Dua Orang Dikonfirmasi Tewas di Prefektur Chiba Usai Hujan Lebat Akibat Angin Topan Dujuan

22 September 2026 - 13:10 WIB

Topan Dujuan Mendekati Jepang Timur, Ganggu Transportasi dan Batalkan Acara di Tengah Libur Silver Week

22 September 2026 - 10:10 WIB

ANA Perkenalkan Pesawat Bertema Hijau Kedua untuk Rayakan 30 Tahun Pokémon

22 September 2026 - 10:10 WIB

Trending on News