Gunung Fuji, salah satu ikon Jepang, akhirnya mendapatkan lapisan salju pertama musim ini pada Jumat. Badan Meteorologi Jepang (JMA) mengonfirmasi kemunculan salju tersebut menggunakan data radar dan teknologi pengamatan lainnya, bukan melalui pengamatan langsung seperti tahun-tahun sebelumnya.
Pengumuman tahun ini tercatat 28 hari lebih lambat dibandingkan tanggal rata-rata kemunculan salju pertama di Gunung Fuji. Waktunya juga tujuh hari lebih lambat dibandingkan tahun lalu. Namun, JMA menyebut perbandingan langsung dengan tahun sebelumnya cukup sulit karena metode pengamatan yang digunakan kini telah berubah.
Mulai musim ini, JMA memperkenalkan metode pengamatan baru dengan memanfaatkan data radar dan satelit cuaca Himawari. Perubahan tersebut bertujuan meningkatkan akurasi pengamatan sekaligus mengurangi beban kerja petugas.
Sebelumnya, staf di Observatorium Kofu harus mengamati langsung kondisi puncak Gunung Fuji untuk memastikan apakah salju sudah turun. Kini, data radar digunakan untuk membantu proses konfirmasi.
Berdasarkan data JMA, lapisan salju setidaknya setebal 1 sentimeter telah terdeteksi pada pukul 08.00 Jumat. Saat itu, suhu di puncak Gunung Fuji yang memiliki ketinggian 3.776 meter tercatat minus 6,3 derajat Celsius.
Pada hari yang sama, Kota Fujiyoshida yang berada di kaki Gunung Fuji juga mengumumkan kemunculan salju pertama musim ini. Berbeda dengan JMA, petugas kota tersebut masih melakukan pengamatan secara langsung untuk memastikan salju telah menutupi puncak gunung.
Melalui pengumumannya, pemerintah Kota Fujiyoshida berharap masyarakat dapat menikmati pemandangan Gunung Fuji yang semakin indah seiring bertambahnya lapisan salju.
Sejak 2006, Kota Fujiyoshida memang turut mengumumkan salju pertama di Gunung Fuji. Langkah ini dilakukan sebagai alternatif apabila Observatorium Kofu yang berjarak sekitar 40 kilometer dari gunung tidak dapat melihat puncaknya akibat hujan atau kabut.
Sc ; KN








