Menu

Dark Mode
Jumlah Mahasiswa Asing di Jepang Pecahkan Rekor, Lampaui Target Pemerintah Delapan Tahun Lebih Cepat Volume Baru Hunter x Hunter Akan Terbit Juli, Pertama Setelah 22 Bulan AI Pencegah Bunuh Diri Mulai Digunakan di Stasiun dan Gedung Jepang, Berhasil Selamatkan Nyawa Di Tengah Wacana Pembatasan, Kota Iga Prefektur Mie Jepang Tetap Rekrut Pegawai Asing untuk Balai Kota Tokyo Disney Resort Akan Hentikan Layanan Priority Pass Gratis Mulai 31 Agustus Manga Gundam Baru Karya Kōzō Ōmori Akan Mulai Terbit Tahun Ini

News

Fenomena “Friendship Marriage” di Jepang: Menikah Tanpa Cinta dan Seks, Demi Hidup yang Lebih Stabil

badge-check


					Fenomena “Friendship Marriage” di Jepang: Menikah Tanpa Cinta dan Seks, Demi Hidup yang Lebih Stabil Perbesar

Sudah tiga tahun sejak Satsuki dan Minato, pasangan berusia 30-an yang tinggal di wilayah Chugoku, Jepang barat, memutuskan untuk menjalani pernikahan tanpa seks dan tanpa cinta, yang mereka sebut sebagai “friendship marriage.”

Keputusan mereka bukan karena kebutuhan visa atau keterpaksaan lainnya, melainkan hasil dari pertimbangan matang akan kehidupan yang ingin mereka jalani—sebagai rekan hidup, bukan pasangan romantis. Kisah mereka adalah bagian dari tren yang semakin berkembang di Jepang, di mana sejumlah orang memilih menikah demi keuntungan praktis seperti manfaat jaminan sosial, meskipun pilihan itu bertentangan dengan orientasi seksual mereka.

Satsuki, yang menyukai sesama jenis perempuan, tumbuh dengan tekanan dari ibunya untuk segera menikah. Ia menemukan inspirasi dari drama TV populer “The Full-Time Wife Escapist” (2016), yang menggambarkan pernikahan sebagai kontrak kerja antara dua pihak. Drama itu membuka pikirannya untuk melihat pernikahan sebagai ikatan sosial yang tak harus melibatkan cinta atau seks.

Minato, yang secara emosional tertarik pada perempuan namun hanya tertarik secara seksual pada laki-laki, juga merasa terdorong oleh ekspektasi keluarga. Ketika sang ayah mengungkit soal cucu, ia pun mempertimbangkan opsi pernikahan persahabatan sebagai solusi.

Mereka bertemu lewat forum daring khusus untuk calon pasangan “friendship marriage” pada 2019. Setelah memastikan kesamaan nilai hidup, mereka memutuskan tinggal bersama, memperkenalkan diri ke orang tua masing-masing, lalu mendaftarkan pernikahan secara legal pada November 2021.

Dua tahun kemudian, Satsuki melahirkan anak melalui metode inseminasi menggunakan jarum suntik. Meski tidak ada kontak fisik yang intim, mereka menjalani kehidupan keluarga bersama, bersosialisasi dengan teman-teman, dan merawat anak mereka dengan penuh kasih.

“Kami tidak tipe satu sama lain,” aku Satsuki dan Minato. Namun Satsuki menyebut Minato sebagai “sepupu yang tidak terlalu dekat,” sementara Minato menyebut Satsuki sebagai “kawan seperjuangan.” Orang tua mereka tidak mengetahui kondisi sebenarnya dari pernikahan tersebut.

Colorus Friendship Marriage, sebuah agensi yang berbasis di Tokyo dan berdiri sejak 2015, telah mencatat 316 pernikahan persahabatan hingga Februari tahun ini. Sekitar 80 persen pria yang terdaftar di agensi tersebut tertarik secara seksual pada sesama jenis, sementara lebih dari 90 persen wanita tidak tertarik secara seksual pada pria maupun wanita.

Namun, menurut Arisa Nakamura, direktur agensi, alasan mereka menikah tidaklah “istimewa”—hanya seperti orang lain pada umumnya: ingin punya teman hidup, atau sekadar membuat orang tua tenang.

Profesor sosiologi keluarga dari Universitas Nihon, Hiroyuki Kubota, mengatakan bahwa meski nilai-nilai baru mulai berkembang di Jepang, pernikahan sesama jenis belum diakui secara hukum. Tekanan sosial yang menuntut pria dan wanita menikah serta memiliki anak masih sangat kuat. Ia menyebut pernikahan persahabatan sebagai “langkah putus asa,” meskipun memiliki keuntungan praktis.

Fakta menarik lainnya, survei tahun 2024 dari Asosiasi Keluarga Berencana Jepang menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen pasangan menikah di Jepang menjalani pernikahan tanpa seks (sexless marriage)—tren yang terus meningkat. Kubota menilai bahwa ketika cinta telah memudar, banyak pasangan tetap bertahan sebagai rekan hidup, bukan kekasih. Maka, tak heran bila ada yang memilih menikah sebagai “partner hidup” sejak awal.

Fenomena ini menunjukkan bahwa bentuk dan tujuan pernikahan di Jepang tengah bergeser. Dari yang dulunya tentang cinta dan gairah, kini menjadi perihal kerja sama, kestabilan hidup, dan kebersamaan dalam menjalani hari.

Sc : KN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Jumlah Mahasiswa Asing di Jepang Pecahkan Rekor, Lampaui Target Pemerintah Delapan Tahun Lebih Cepat

2 June 2026 - 18:10 WIB

Volume Baru Hunter x Hunter Akan Terbit Juli, Pertama Setelah 22 Bulan

2 June 2026 - 16:10 WIB

Di Tengah Wacana Pembatasan, Kota Iga Prefektur Mie Jepang Tetap Rekrut Pegawai Asing untuk Balai Kota

2 June 2026 - 13:10 WIB

Parlemen Jepang Setujui Revisi Aturan Imigrasi, Biaya Pengajuan Status Tinggal Akan Naik

30 May 2026 - 12:10 WIB

Pesawat JAL Mendarat Darurat di Narita, Ban Diduga Pecah Saat Lepas Landas

30 May 2026 - 10:10 WIB

Trending on News