Menu

Dark Mode
Gaji Pekerja di Jepang Naik Rata-rata 5,01 Persen pada 2026, Tembus Kenaikan di Atas 5 Persen Selama Tiga Tahun Beruntun Jepang Mulai Operasikan Taksi Mini Berbahan Bakar Gas Pertama, Target Atasi Kekurangan Sopir Jepang Siapkan Kereta Ekspres Langsung Narita–Haneda, Waktu Tempuh Bakal Lebih Singkat Mulai 2028, Sony Hentikan Produksi Game Fisik Baru untuk PlayStation Survei: Sekitar 350 Ribu Orang di Jepang Pernah Gunakan Kokain, Angka Tertinggi Sejak 2007 Jepang Mulai Operasikan Taksi Mini Berbahan Bakar Gas Pertama

News

Gambar dan Video Seksual Buatan AI Menargetkan Anak dan Perempuan Kian Merebak di Jepang

badge-check


					Gambar dan Video Seksual Buatan AI  Menargetkan Anak dan Perempuan Kian Merebak di Jepang Perbesar

Gambar dan video deepfake seksual yang dibuat dengan menyalahgunakan kecerdasan buatan generatif (AI generatif) dan menargetkan anak-anak serta perempuan semakin menyebar luas di Jepang.

Dalam beberapa kasus, gambar telanjang palsu dari individu dibuat tanpa sepengetahuan mereka, lalu disebarkan di internet beserta nama asli, alamat, dan nama sekolah. Harian Mainichi Shimbun menelusuri kerusakan nyata yang ditimbulkan oleh AI generatif, yang tak hanya menyebabkan anak-anak menjadi korban, tetapi juga memungkinkan mereka menjadi pelaku.

Sumire Nagamori, kepala organisasi relawan Hiiragi Net, yang memantau internet dan melaporkan konten ke operator platform serta kepolisian, menatap layar komputernya dengan ekspresi muram. Ia tengah meneliti volume luar biasa besar gambar dan video palsu seksual yang diunggah ke media sosial. Termasuk di antaranya adalah foto kelompok sekolah yang diedit sehingga siswi-siswinya tampak telanjang, serta foto buku tahunan yang bagian tubuh di bawah wajah telah dimodifikasi secara seksual.

Banyak sekolah di Jepang menggunakan sistem di mana fotografer profesional mengunggah foto acara sekolah ke situs khusus, agar keluarga dapat memilih dan membeli foto yang mereka inginkan. Tampaknya foto-foto ini telah bocor dan disalahgunakan di internet. Bahkan ada percakapan online seperti, “Ayo tukar ID dan password login situs penjualan foto sekolah.”

Dulu, membuat gambar palsu seksual seperti “idol collages” (dikenal sebagai “aikora”) — yaitu mencampur wajah seseorang dengan konten porno — memerlukan pengetahuan dan keterampilan teknis tertentu. Namun sekarang, dengan hadirnya aplikasi dan situs AI generatif, pengguna hanya perlu mengunggah satu gambar dan dalam hitungan detik bisa membuat deepfake. Hambatan teknis yang rendah ini menjadi faktor utama cepatnya penyebaran dan kerusakan.

Organisasi nirlaba yang berbasis di Tokyo, PAPS (Organization for Pornography and Sexual Exploitation Survivors), yang mendukung korban kekerasan seksual digital, mulai secara aktif mengajak korban deepfake porno untuk mencari bantuan sejak sekitar enam bulan lalu. Salah satu korban tidak bisa lagi masuk sekolah setelah gambar palsu dirinya tersebar online, disertai nama sekolahnya, karena takut bahwa “mungkin saja ada orang asing yang menunggu di depan sekolah.” Ketua PAPS, Kazuna Kanajiri, menyatakan, “Ketakutan yang dirasakan korban sangat besar, tak terukur,” dan mendesak siapa pun yang terdampak untuk segera mencari dukungan.

Sc : mainichi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Gaji Pekerja di Jepang Naik Rata-rata 5,01 Persen pada 2026, Tembus Kenaikan di Atas 5 Persen Selama Tiga Tahun Beruntun

4 July 2026 - 10:10 WIB

Jepang Siapkan Kereta Ekspres Langsung Narita–Haneda, Waktu Tempuh Bakal Lebih Singkat

4 July 2026 - 07:03 WIB

Mulai 2028, Sony Hentikan Produksi Game Fisik Baru untuk PlayStation

3 July 2026 - 15:10 WIB

Survei: Sekitar 350 Ribu Orang di Jepang Pernah Gunakan Kokain, Angka Tertinggi Sejak 2007

3 July 2026 - 10:10 WIB

Jepang Kembangkan AI untuk Deteksi Pohon Berisiko Tumbang, Cegah Kecelakaan di Ruang Publik

2 July 2026 - 14:10 WIB

Trending on News