Menu

Dark Mode
Film Live-Action Sakamoto Days Rilis Trailer Kedua, Pamer Adegan Aksi dan Kehidupan Sehari-hari Sakamoto Spin-off Iruma-kun Bertema Mafia Resmi Dianimasikan, Tayang Januari 2027 Kosakata Jepang yang Sering Muncul di Mesin Tiket Patuh Tanpa Pengawasan: Mengapa Orang Jepang Tetap Mengikuti Aturan The second season of Monarch: Legacy of Monsters will premiere on Apple TV on February 27. New episodes will debut on Fridays. Kurt Russell will return as Lee Shaw. Amber Midthunder (Prey) will play a powerful businesswoman named Isabel. The show is part of a multi-series deal with Legendary Entertainment that includes multiple spinoffs for the franchise. Entertainment news source Deadline reported in December that Apple TV is producing a prequel to Monarch: Legacy of Monsters. Joby Harold is returning to showrun the prequel at Safehouse Pictures. Tory Tunnell is also serving as executive producer alongside Harold and fellow executive producers Hiro Matsuoka and Takemasa Arita from TOHO. Kei Banno, Brian Rogers, and Kenji Okuhira are producing. c

Culture

Hanami: Makna Filosofis di Balik Tradisi Melihat Bunga Sakura

badge-check


					Hanami: Makna Filosofis di Balik Tradisi Melihat Bunga Sakura Perbesar

Setiap musim semi, Jepang diselimuti oleh keindahan bunga sakura yang bermekaran. Fenomena alam ini tidak hanya menjadi pemandangan yang memesona, tetapi juga menjadi bagian penting dari budaya Jepang melalui tradisi Hanami (花見), yang secara harfiah berarti “melihat bunga”. Hanami bukan sekadar aktivitas piknik di bawah pohon sakura, melainkan sebuah refleksi filosofis tentang kehidupan, keindahan, dan kefanaan.

Asal-Usul Hanami

Tradisi Hanami sudah ada sejak zaman Nara (710–794) dan awalnya terinspirasi dari kebiasaan bangsawan Tiongkok yang menikmati bunga plum. Namun, pada zaman Heian (794–1185), Kaisar Saga mengadakan pesta di bawah pohon sakura, dan sejak itu, Hanami menjadi tradisi yang identik dengan bunga sakura.

Awalnya, Hanami hanya dinikmati oleh kalangan bangsawan, tetapi pada zaman Edo (1603–1868), Shogun Tokugawa Yoshimune mendorong rakyat biasa untuk turut serta, sehingga Hanami menjadi budaya populer hingga sekarang.

Makna Filosofis di Balik Hanami

1. Sakura sebagai Simbol Keindahan yang Sementara (Mono no Aware)

Konsep Mono no Aware (物の哀れ) menggambarkan kesadaran akan ketidakkekalan segala sesuatu. Bunga sakura hanya mekar selama 7–10 hari sebelum akhirnya gugur. Keindahannya yang singkat mengingatkan orang Jepang bahwa hidup juga fana, sehingga momen indah harus dinikmati sepenuhnya.

2. Refleksi tentang Hidup dan Kematian

Dalam budaya samurai, sakura dianggap sebagai metafora kehidupan seorang pejuang—indah, berani, tetapi cepat berlalu. Filosofi “Hana wa sakuragi, hito wa bushi” (花は桜木人は武士) berarti “Bunga yang terbaik adalah sakura, manusia yang terbaik adalah samurai”, menunjukkan bahwa hidup yang singkat harus dijalani dengan penuh makna.

3. Kebersamaan dan Harmoni (Wa)

Hanami juga mencerminkan nilai Wa (和) atau harmoni dalam masyarakat Jepang. Saat musim sakura, orang berkumpul bersama keluarga, teman, atau rekan kerja untuk berpiknik, minum sake, dan menikmati keindahan alam. Tradisi ini memperkuat ikatan sosial di tengah kesibukan modern.

4. Hubungan Manusia dengan Alam

Orang Jepang sangat menghormati alam, dan Hanami adalah bentuk apresiasi terhadap perubahan musim (kisetsu). Sakura mengajarkan manusia untuk selaras dengan siklus alam—menghargai musim semi sebagai waktu kelahiran kembali setelah musim dingin yang keras.

Hanami di Era Modern

Kini, Hanami telah berkembang menjadi fenomena sosial yang dinikmati berbagai kalangan:

  • Spot Hanami Terkenal: Taman Ueno (Tokyo), Philosopher’s Path (Kyoto), dan Kastil Hirosaki.
  • Kegiatan Modern: Fotografi, festival lampu (yozakura), bahkan livestreaming sakura bagi yang tak bisa hadir.
  • Kuliner Khas HanamiBento hanamisakura mochi, dan dango sering dinikmati saat berpiknik.

Hanami bukan sekadar tradisi melihat bunga, melainkan perenungan mendalam tentang arti kehidupan. Sakura yang mekar dan gugur mengajarkan kita untuk menghargai momen, menerima perubahan, dan menemukan kebahagiaan dalam kebersamaan. Di balik keindahan pinknya yang memesona, tersimpan pelajaran berharga tentang kesementaraan dan keindahan hidup yang harus dinikmati selagi ada.

“Hidup ini seperti bunga sakura—singkat, tetapi jika dijalani dengan penuh arti, keindahannya akan selalu dikenang.” 🌸

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Patuh Tanpa Pengawasan: Mengapa Orang Jepang Tetap Mengikuti Aturan

5 February 2026 - 18:30 WIB

Hidup Berdekatan, Tapi Tetap Berjarak: Cara Orang Jepang Menjaga Privasi

4 February 2026 - 12:30 WIB

Kebiasaan Menghabiskan Makanan Sampai Bersih Adalah Bentuk Rasa Hormat di Jepang

3 February 2026 - 18:30 WIB

Mengapa Urusan Sampah Dianggap Serius di Jepang, Bukan Sekadar Soal Kebersihan

30 January 2026 - 10:14 WIB

Mengapa Orang Jepang Lebih Nyaman Sendiri di Tempat Umum

29 January 2026 - 18:30 WIB

Trending on Culture