Indonesia dan Jepang semakin mempererat kerja sama budaya melalui pengembangan Museum Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung, Jawa Barat, serta kolaborasi dalam pelestarian dan digitalisasi arsip sejarah Konferensi Asia-Afrika 1955.
Penguatan hubungan tersebut dilakukan dalam kerangka Comprehensive Strategic Partnership (Kemitraan Komprehensif Strategis) yang mencakup pertukaran budaya, pendidikan, dan dialog antar masyarakat (people to people contact).
Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik (IDP) Kementerian Luar Negeri RI, Heru Subolo, mengatakan bahwa Indonesia melakukan serangkaian pertemuan di Tokyo pada 17–19 Juni 2026 dengan berbagai institusi Jepang, termasuk Ministry of Foreign Affairs of Japan, Japan Foundation, National Archives of Japan, Japan Center for Asian Historical Records, Japan International Cooperation Agency, dan Tokyo National Museum.
“Kami bertukar pandangan mengenai pengelolaan informasi publik di era digital, penguatan diplomasi budaya Indonesia–Jepang, serta pengembangan Kawasan Bersejarah Konferensi Asia-Afrika di Bandung,”
ujar Heru Subolo.
Pihak Jepang juga menyambut baik peluang kerja sama dalam preservasi, digitalisasi, dan pemanfaatan arsip KAA untuk kepentingan penelitian, edukasi, dan diplomasi publik.
Kepala Museum KAA, Noviasari Rustam, menjelaskan bahwa Jepang mendukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia Museum KAA dan akan menghubungkan museum tersebut dengan jaringan museum di Jepang.
“Museum KAA juga akan menjalin kerja sama dengan National Archives of Japan dan JACAR terkait digitalisasi dan pemanfaatan arsip KAA untuk edukasi dan diplomasi publik,”
kata Noviasari.
Selain itu, Museum KAA diharapkan dapat melakukan kerja sama teknis dengan Tokyo National Museum, termasuk berbagi pengalaman mengenai program publik dan pengelolaan museum.
Menurut Noviasari, tantangan utama yang dihadapi Museum KAA saat ini adalah infrastruktur, sarana-prasarana, dan pengembangan sumber daya manusia. Pengembangan kawasan bersejarah KAA diharapkan dapat meningkatkan akses informasi sejarah yang akurat bagi masyarakat Indonesia maupun wisatawan asing.
Kuliner Indonesia Jadi Jembatan Diplomasi
Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Heru Subolo juga menggelar diskusi gastrodiplomacy bersama para pelaku usaha restoran Indonesia di Tokyo yang berlangsung di Restoran Cinta Jawa, Shibuya.
“Kuliner Indonesia adalah salah satu pintu masuk pengenalan Indonesia di Jepang. Keberadaan restoran Indonesia di Jepang menjadi jembatan diplomasi budaya kedua negara yang efektif,”
ujarnya.
Diskusi tersebut membahas tantangan dan strategi untuk meningkatkan visibilitas serta daya tarik kuliner Indonesia di Jepang sebagai bagian dari penguatan hubungan sosial-budaya kedua negara.
Museum KAA Jadi Simbol Sejarah Bersama
Kerja sama pengembangan Museum Konferensi Asia-Afrika memiliki makna penting karena museum tersebut mengabadikan peristiwa bersejarah Konferensi Asia-Afrika 1955 yang menjadi simbol solidaritas negara-negara Asia dan Afrika pascakolonial.
Melalui kolaborasi ini, Indonesia dan Jepang berharap dapat menjaga warisan sejarah bersama sekaligus memperkuat diplomasi publik dan hubungan antar masyarakat di masa depan.
Sc : kemlu








