Meski kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memiliki potensi besar bagi industri pariwisata Jepang, para pelaku industri menilai langkah pertama yang harus dilakukan adalah membangun hubungan emosional yang lebih kuat dengan bisnis-bisnis lokal.
Ketua Divisi Ekonomi, Perdagangan, dan Industri dari Partai Demokrat Liberal Jepang, Fumiaki Kobayashi, mengatakan bahwa pembangunan infrastruktur data yang cukup untuk pemanfaatan AI secara efektif memerlukan kerja sama antara sektor publik dan swasta.
Berbicara dalam sesi diskusi pada acara Inbound Summit yang digelar di Tokyo pada Rabu, Kobayashi juga menyoroti bahwa tingkat pemanfaatan AI di Jepang masih tergolong rendah. Ia pun mendorong para pelaku bisnis untuk mulai menggunakannya.
Sementara itu, Masanori Satake, manajer di Federasi Pariwisata Prefektur Fukui, mengatakan bahwa tantangan terbesar dalam mengumpulkan data untuk sistem analisis pariwisata sebenarnya bukan terletak pada teknologi, melainkan pada membangun kepercayaan.
Pada Maret 2022, Prefektur Fukui meluncurkan FTAS atau Fukui Tourism Data Analyzing System, sebuah sistem analisis data komprehensif yang bertujuan mendorong pariwisata daerah yang lebih menguntungkan melalui pengambilan keputusan berbasis data.
Namun, Satake mengungkapkan bahwa organisasinya harus berulang kali meyakinkan asosiasi ryokan di kawasan pemandian air panas Awara Onsen agar bersedia membagikan data mereka. Mereka bahkan harus kembali berkali-kali untuk menjawab berbagai kekhawatiran sebelum akhirnya asosiasi tersebut setuju.
Menurut Satake, meskipun banyak hal nantinya dapat diotomatisasi, hubungan yang berakar pada komunitas lokal hanya bisa dibangun oleh orang-orang yang benar-benar tinggal di daerah tersebut.
Sistem FTAS sendiri memungkinkan pengguna memvisualisasikan tingkat okupansi penginapan hingga 90 hari ke depan dengan menggabungkan berbagai sumber data. Hal ini membantu hotel menyusun strategi harga yang lebih tepat, sekaligus membantu bisnis lokal mengatur stok produk dan promosi secara lebih efektif.
Saat ini AI digunakan untuk mempercepat proses analisis data dan pembuatan laporan. Data yang dianalisis mencakup berbagai hal, mulai dari pemesanan tiket Museum Dinosaurus Prefektur Fukui hingga jumlah kunjungan halaman di situs resmi pariwisata prefektur tersebut.
Dengan jumlah penduduk usia produktif di Jepang diperkirakan menyusut menjadi sekitar 80 persen dari jumlah saat ini pada tahun 2040, Kobayashi menegaskan bahwa peningkatan produktivitas dan pemanfaatan AI untuk menambah nilai pengalaman wisata menjadi hal yang sangat penting dalam kebijakan pariwisata.
Ia menambahkan bahwa sebelumnya kebijakan pariwisata Jepang lebih berfokus pada jumlah wisatawan, dengan target mencapai 40 hingga 50 juta pengunjung. Namun kini fokusnya mulai bergeser pada kualitas pengalaman wisata.
Menurutnya, AI dapat membantu memberikan rekomendasi destinasi di daerah-daerah serta mengoptimalkan sistem harga dinamis bagi wisatawan.
Sementara itu, CEO Asoview Inc., Tomohisa Yamano, yang memoderatori sesi diskusi tentang AI tersebut, mengatakan bahwa komunikasi langsung dan jaringan antar manusia tetap menjadi kunci untuk membuka potensi suatu daerah.
Ia menegaskan bahwa pada akhirnya pemanfaatan AI tetap bergantung pada upaya nyata di lapangan, seperti kerja keras membangun jaringan dan hubungan dengan berbagai pihak. Menurutnya, apakah AI dapat benar-benar dimanfaatkan di suatu daerah sangat ditentukan oleh seberapa besar usaha yang dilakukan oleh orang-orang di sana.
Sc : KN










