Menu

Dark Mode
WNI di Kumamoto Saling Bantu dengan Warga Jepang Usai Gempa, Bertahan di Pengungsian Tanpa Listrik dan Air Kereta Shinkansen Baru Buatan Jepang Resmi Dikirim ke Taiwan, Siap Beroperasi pada 2027 Film Baru BanG Dream! Ave Mujica Tayang Oktober 2026, Trailer Perdana Resmi Dirilis Korban Gempa Kumamoto Bertambah Jadi 34 Orang, Ribuan Warga Masih Bertahan di Pengungsian Jepang Pertama Kali Uji Coba Rudal Tomahawk, Perkuat Kemampuan Pertahanan Neon Genesis Evangelion Resmi Masuk Criterion Channel Mulai September

News

Jepang Kekurangan Pekerja Full Timer Terburuk, Lebih dari 50% Perusahaan Kekurangan Karyawan

badge-check


					Jepang Kekurangan Pekerja Full Timer Terburuk, Lebih dari 50% Perusahaan Kekurangan Karyawan Perbesar

Jepang tengah menghadapi krisis tenaga kerja paling parah sejak pandemi COVID-19, dengan lebih dari separuh perusahaan mengaku kekurangan pekerja penuh waktu, menurut survei terbaru dari Teikoku Databank Ltd.

Dari sekitar 11.000 perusahaan yang disurvei pada Januari 2025, 53,4% menyatakan membutuhkan lebih banyak pekerja penuh waktu. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak April 2020 dan hampir menyamai rekor 53,9% pada November 2018.

Sektor dengan kebutuhan tenaga kerja tertinggi adalah layanan informasi, khususnya insinyur sistem (system engineer), diikuti oleh industri konstruksi.

Selain itu, 30,6% perusahaan juga melaporkan kekurangan pekerja paruh waktu, dengan perusahaan staffing (penyedia tenaga kerja) merasakan dampak paling parah, diikuti oleh industri restoran.

Survei ini dirilis menjelang keputusan besar perusahaan-perusahaan Jepang terkait tuntutan kenaikan gaji dalam negosiasi tahunan “shunto” yang akan berakhir bulan ini.

Untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja dan mempertahankan karyawan, sekitar 68,1% perusahaan yang terdampak berencana menaikkan gaji pekerja penuh waktu mulai April 2025.

Namun, para ekonom memperingatkan bahwa perusahaan kecil dan menengah (UKM) akan kesulitan mengikuti jejak perusahaan besar yang memiliki sumber daya keuangan lebih besar untuk menaikkan upah.

Tekanan tenaga kerja ini juga meningkatkan risiko kebangkrutan perusahaan. Teikoku Databank mencatat bahwa jumlah perusahaan yang bangkrut akibat kekurangan tenaga kerja mencapai rekor tertinggi pada 2024.

“Kita harus waspada terhadap risiko meningkatnya jumlah kebangkrutan akibat kekurangan tenaga kerja,” kata lembaga riset tersebut.

Krisis tenaga kerja ini menunjukkan bahwa Jepang harus segera mencari solusi, baik melalui peningkatan otomatisasi, fleksibilitas kerja, atau kebijakan tenaga kerja asing untuk menutupi kebutuhan tenaga kerja yang semakin mendesak.

Sc : KN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

WNI di Kumamoto Saling Bantu dengan Warga Jepang Usai Gempa, Bertahan di Pengungsian Tanpa Listrik dan Air

1 August 2026 - 14:27 WIB

Kereta Shinkansen Baru Buatan Jepang Resmi Dikirim ke Taiwan, Siap Beroperasi pada 2027

31 July 2026 - 16:10 WIB

Korban Gempa Kumamoto Bertambah Jadi 34 Orang, Ribuan Warga Masih Bertahan di Pengungsian

31 July 2026 - 11:10 WIB

Jepang Pertama Kali Uji Coba Rudal Tomahawk, Perkuat Kemampuan Pertahanan

31 July 2026 - 10:10 WIB

Jepang Siapkan Aturan Baru, Pelaku Stalking Bisa Dipasang Alat Pelacak GPS

30 July 2026 - 18:10 WIB

Trending on News