Menu

Dark Mode
JR West dan Sagawa Uji Layanan Kirim Koper Hari yang Sama untuk Turis Asing Pemotongan Pajak Konsumsi Makanan di Jepang Berpotensi Kurangi Pendapatan Petani Lebih dari ¥300 Miliar per Tahun Kehamilan Kembar dari Program Bayi Tabung di Jepang Mencapai Rekor Tertinggi Setelah Ditanggung Asuransi JR East Luncurkan Kereta Tidur Mewah “Luna Azul”, Bisa Tidur di Tokyo dan Bangun di Aomori Koji Mukai Kembali ke Film Mr. Osomatsu, Kini Jadi “Mantan Osomatsu” Polisi Temukan Jenazah di Gunung Karasawa, Diduga Terkait WNI yang Hilang Sejak Maret

News

Pemotongan Pajak Konsumsi Makanan di Jepang Berpotensi Kurangi Pendapatan Petani Lebih dari ¥300 Miliar per Tahun

badge-check


					Pemotongan Pajak Konsumsi Makanan di Jepang Berpotensi Kurangi Pendapatan Petani Lebih dari ¥300 Miliar per Tahun Perbesar

Rencana pemerintah Jepang untuk menurunkan pajak konsumsi pada makanan dan minuman diperkirakan akan memberikan dampak besar bagi sektor pertanian. Menurut estimasi yang dirilis oleh Mitsubishi Research Institute, sekitar 800.000 petani kecil dan menengah di Jepang dapat kehilangan pendapatan lebih dari 300 miliar yen per tahun secara total.

Saat ini, makanan dan minuman di Jepang dikenakan pajak konsumsi sebesar 8 persen. Pemerintah sedang mempertimbangkan untuk menurunkannya menjadi 1 persen mulai April 2027 guna meringankan beban masyarakat.

Namun, banyak petani kecil di Jepang saat ini mendapat keuntungan dari sistem pajak yang berlaku. Karena sebagian besar petani berskala kecil dibebaskan sepenuhnya atau sebagian dari kewajiban menyetorkan pajak konsumsi kepada pemerintah, pajak yang sudah termasuk dalam harga hasil panen mereka pada praktiknya menjadi tambahan pendapatan.

Jika tarif pajak makanan diturunkan menjadi 1 persen, jumlah pajak yang terkandung dalam harga jual hasil pertanian juga akan berkurang drastis. Di sisi lain, petani tetap harus membayar pajak konsumsi saat membeli pupuk, mesin pertanian, dan berbagai kebutuhan produksi lainnya. Akibatnya, pendapatan mereka bisa menurun.

Penelitian tersebut memperkirakan rata-rata setiap petani akan kehilangan sekitar 400.000 yen per tahun, meskipun jumlah pastinya berbeda tergantung ukuran dan pendapatan usaha masing-masing.

Dari sekitar 820.000 petani di Jepang, diperkirakan:

  • Sekitar 700.000 petani saat ini sepenuhnya dibebaskan dari kewajiban menyetor pajak konsumsi.
  • Sekitar 85.000 petani mendapat pembebasan sebagian.

Karena proporsi petani kecil dan menengah sangat besar dalam sektor pertanian Jepang, industri ini dinilai lebih rentan terhadap dampak pemotongan pajak dibandingkan sektor lainnya.

Pemerintah Jepang disebut sedang mempertimbangkan pemberian subsidi dan berbagai bentuk bantuan keuangan untuk mengurangi dampak negatif kebijakan tersebut terhadap petani.

Para ahli memperingatkan bahwa jika tidak diimbangi dengan dukungan yang memadai, penurunan pendapatan ini dapat mempercepat tren yang sudah berlangsung lama di Jepang, yaitu semakin banyak petani yang meninggalkan sektor pertanian karena alasan ekonomi.

Sc : JT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

JR West dan Sagawa Uji Layanan Kirim Koper Hari yang Sama untuk Turis Asing

15 June 2026 - 13:10 WIB

Kehamilan Kembar dari Program Bayi Tabung di Jepang Mencapai Rekor Tertinggi Setelah Ditanggung Asuransi

15 June 2026 - 10:10 WIB

Polisi Temukan Jenazah di Gunung Karasawa, Diduga Terkait WNI yang Hilang Sejak Maret

13 June 2026 - 15:10 WIB

Masjid Ilegal di Kawagoe Diminta Hentikan Aktivitas, Wali Kota Tegaskan Tidak Boleh Digunakan

13 June 2026 - 10:40 WIB

Dua Awak Kabin Kedapatan Minum Alkohol Sebelum Bertugas, Japan Airlines Ditegur Kementerian Transportasi Jepang

13 June 2026 - 10:10 WIB

Trending on News