Menu

Dark Mode
Lebih dari 60% Anak Muda di Bawah 30 Tahun di Jepang Tidak Ingin Punya Anak Polisi Jepang Tangkap 7 Orang Termasuk Anggota Yakuza Terkait Perampokan Rp44 Miliar di Tokyo Indonesia dan Jepang Teken Kerja Sama Mineral Kritis dan Energi Nuklir di Tokyo Kekurangan Sopir, Tokyo Hapus Layanan Bus Tengah Malam Mulai Akhir Maret Honda Terancam Rugi Rp250 Triliun Akibat Perubahan Strategi Mobil Listrik Buku Anak Legendaris “Little Mouse’s Red Vest” Akan Jadi Anime, Tayang April

News

Lebih dari 60% Anak Muda di Bawah 30 Tahun di Jepang Tidak Ingin Punya Anak

badge-check


					Lebih dari 60% Anak Muda di Bawah 30 Tahun di Jepang Tidak Ingin Punya Anak Perbesar

Lebih dari 60 persen anak muda lajang di Jepang menyatakan tidak ingin memiliki anak pada 2025, menurut hasil survei terbaru. Angka ini meningkat dari 56,6 persen pada 2024, meskipun pemerintah terus berupaya mengatasi krisis penurunan angka kelahiran.

Survei yang dilakukan oleh perusahaan farmasi Rohto Pharmaceutical pada Desember lalu melibatkan 400 responden berusia 18 hingga 29 tahun. Hasilnya menunjukkan 62,6 persen responden enggan memiliki anak, dengan alasan utama kekhawatiran finansial dan perkembangan karier.

Para responden juga menyebut konten di media sosial mengenai kehamilan dan pengasuhan anak turut memicu kecemasan mereka terhadap keputusan untuk memiliki anak.

Jika dilihat berdasarkan gender, 64,7 persen perempuan mengatakan tidak ingin memiliki anak, lebih tinggi dibandingkan 60,7 persen laki-laki. Ini menjadi pertama kalinya sejak survei mulai mencatat data berdasarkan gender pada 2020 bahwa angka penolakan pada perempuan melampaui laki-laki.

Tren gaya hidup tanpa anak (childfree) di kalangan anak muda Jepang memang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2020, jumlah responden yang tidak ingin memiliki anak masih 44 persen, lalu naik menjadi 55,2 persen pada 2023, dan kini mencapai 62,6 persen.

Juru bicara Rohto mengatakan hasil survei ini menunjukkan perlunya dukungan dari masyarakat dan tempat kerja bahkan sebelum seseorang memiliki anak, termasuk memberikan pengetahuan yang tepat mengenai kehamilan dan proses melahirkan.

Pemerintah Jepang sendiri telah menyiapkan berbagai kebijakan untuk meningkatkan angka kelahiran, seperti memperluas tunjangan pengasuhan anak dan manfaat cuti orang tua.

Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil. Data dari kementerian kesehatan menunjukkan jumlah kelahiran di Jepang pada 2025 hanya mencapai 705.809 bayi, menjadi rekor terendah selama sepuluh tahun berturut-turut.

Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang mencatat sejarah sebagai perdana menteri perempuan pertama Jepang sejak menjabat pada Oktober lalu, pada Februari menyebut penurunan angka kelahiran ini sebagai “darurat sunyi” yang dapat melemahkan vitalitas negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Polisi Jepang Tangkap 7 Orang Termasuk Anggota Yakuza Terkait Perampokan Rp44 Miliar di Tokyo

16 March 2026 - 10:10 WIB

Indonesia dan Jepang Teken Kerja Sama Mineral Kritis dan Energi Nuklir di Tokyo

16 March 2026 - 07:27 WIB

Kekurangan Sopir, Tokyo Hapus Layanan Bus Tengah Malam Mulai Akhir Maret

13 March 2026 - 21:08 WIB

Honda Terancam Rugi Rp250 Triliun Akibat Perubahan Strategi Mobil Listrik

13 March 2026 - 18:00 WIB

Jepang Akan Lepas Cadangan Minyak untuk Cegah Harga BBM Melonjak Akibat Konflik Timur Tengah

13 March 2026 - 10:10 WIB

Trending on News