Dalam budaya Jepang, penggunaan akhiran setelah nama—yang disebut keishougo (敬称語)—sangat penting untuk menunjukkan tingkat kesopanan, kedekatan, dan hierarki sosial. Artikel ini akan membahas perbedaan antara akhiran seperti -san, -kun, -chan, -sama, hingga -dono, dan bagaimana cara menggunakannya dengan tepat.
1. -san (さん): Netral dan Sopan
Makna dan Nuansa:
Digunakan untuk orang yang kita hormati atau tidak terlalu dekat. Mirip seperti “Bapak/Ibu/Saudara/i” dalam Bahasa Indonesia. Ini adalah bentuk kehormatan yang paling umum dan aman digunakan.
Contoh Penggunaan:
-
Tanaka-san → Bapak/Ibu Tanaka
-
Suzuki-san → Saudari Suzuki
Bahasa Jepang Saat Membuka Rekening Bank di Jepang
Fikri Ario N
Siapa yang Memakai?
-
Digunakan ke rekan kerja, guru, pelanggan, atau teman sebaya.
2. -kun (くん): Untuk Laki-laki atau Junior
Makna dan Nuansa:
Biasanya digunakan untuk laki-laki yang lebih muda atau setara, atau untuk junior (kohai) di tempat kerja atau sekolah. Terkesan kasual namun tetap sopan.
Contoh Penggunaan:
-
Taro-kun → Taro (anak laki-laki, murid, atau junior)
Siapa yang Memakai?
-
Guru ke murid laki-laki
-
Atasan ke karyawan muda
-
Teman akrab (terutama sesama laki-laki)
3. -chan (ちゃん): Imut dan Kasual
Makna dan Nuansa:
Digunakan untuk anak-anak, hewan peliharaan, atau seseorang yang sangat dekat atau dianggap lucu. Memberi kesan manja, akrab, dan penuh kasih.
Contoh Penggunaan:
-
Miko-chan → Miko kecil
-
Tama-chan → Kucing bernama Tama
Siapa yang Memakai?
-
Keluarga, teman dekat, kekasih, atau orang tua ke anak.
4. -sama (様): Sangat Sopan dan Formal
Makna dan Nuansa:
Bentuk sangat sopan dari “-san”. Memberi nuansa penghormatan tinggi, biasanya untuk klien, pelanggan, atau dewa.
Contoh Penggunaan:
-
Okyaku-sama → Yang Terhormat Tamu
-
Kami-sama → Tuhan
Siapa yang Memakai?
-
Pegawai toko ke pelanggan
-
Saat menulis surat formal
-
Dalam layanan pelanggan atau perbankan
5. -dono (殿): Hormat Klasik ala Samurai
Makna dan Nuansa:
Digunakan dalam konteks sangat formal dan kuno, setingkat di bawah “-sama”. Di masa lalu, digunakan oleh kalangan samurai atau saat menyebut bangsawan.
Contoh Penggunaan:
-
Takeda-dono → Tuan Takeda (gaya samurai)
Saat Ini Dipakai di Mana?
-
Dalam dokumen resmi, surat undangan tradisional, atau karya fiksi sejarah.
Bonus: Akhiran Lain yang Jarang Tapi Menarik
| Akhiran | Penjelasan |
|---|---|
| -senpai (先輩) | Untuk kakak kelas atau senior |
| -sensei (先生) | Untuk guru, dokter, atau profesional |
| -shi (氏) | Sangat formal, sering di surat kabar |
| -heika (陛下) | Untuk Kaisar, berarti “Yang Mulia” |
Tabel Perbandingan Singkat
| Akhiran | Tingkat Formalitas | Digunakan Untuk | Kesan |
|---|---|---|---|
| -san | Netral | Umum, sopan | Formal tapi fleksibel |
| -kun | Kasual | Laki-laki, junior | Akrab, maskulin |
| -chan | Kasual | Anak, perempuan, hewan | Imut, sayang |
| -sama | Sangat formal | Klien, pelanggan, dewa | Hormat tinggi |
| -dono | Arkais / kuno | Kelas bangsawan, samurai | Formal klasik |
Akhiran nama dalam bahasa Jepang bukan hanya pelengkap, tetapi bagian penting dari etika berbahasa dan budaya hormat. Salah memilih bisa dianggap kasar atau terlalu akrab. Jadi, selalu perhatikan siapa yang bicara, kepada siapa, dan dalam konteks apa.










