Sebuah universitas kedokteran di Prefektur Aichi mengumumkan rencana untuk memulai uji klinis transplantasi rahim dalam beberapa tahun ke depan.
Fujita Health University menyatakan sedang mempertimbangkan prosedur tersebut untuk tiga perempuan yang tidak dapat hamil atau melahirkan secara alami, termasuk setidaknya satu pasien yang terlahir tanpa rahim.
Ke depannya, universitas tersebut juga berencana menawarkan transplantasi rahim kepada perempuan yang kehilangan rahim akibat operasi pengangkatan kanker.
Pengumuman ini disampaikan setelah pertemuan pertama kelompok kerja penelitian transplantasi rahim yang dibentuk oleh universitas. Mereka menargetkan pengajuan penilaian etik dan ilmiah kepada komite internal kampus sebelum akhir tahun ini.
“Kami yakin ada pasien yang akan memperoleh manfaat besar dari prosedur ini,” kata Iori Kisu, ketua kelompok kerja sekaligus profesor obstetri dan ginekologi.
Dalam prosedur tersebut, pasien yang menerima transplantasi rahim nantinya akan mencoba hamil menggunakan sel telur yang sebelumnya telah dibekukan dan dibuahi dengan sperma pasangannya melalui teknologi reproduksi berbantu.
Namun, transplantasi rahim masih menjadi topik yang memunculkan berbagai pertimbangan etis. Pasalnya, baik donor maupun penerima transplantasi harus menjalani operasi besar yang memiliki risiko kesehatan serius, sementara kondisi tidak memiliki rahim sendiri bukanlah penyakit yang mengancam nyawa.
Pada tahun 2021, sebuah panel dari Japanese Association of Medical Sciences telah menyetujui pelaksanaan uji klinis transplantasi rahim dalam jumlah terbatas. Selain itu, komite peninjau di Keio University juga memberikan persetujuan pada tahun 2025. Meski demikian, hingga saat ini belum ada uji klinis transplantasi rahim yang benar-benar dilakukan di Jepang.
Menurut Prof. Kisu, lebih dari 150 transplantasi rahim telah dilakukan di berbagai negara. Dari prosedur tersebut, lebih dari 70 bayi berhasil lahir.
Sementara itu, data dari International Society of Uterus Transplantation menunjukkan bahwa dari 91 kasus transplantasi rahim yang dilakukan di 24 institusi medis antara tahun 2000 hingga 2024, terdapat 36 perempuan yang berhasil melahirkan total 44 bayi.
Meski hasilnya menjanjikan, komplikasi masih cukup sering terjadi. Sebanyak 27 ibu mengalami masalah kesehatan selama kehamilan, termasuk gangguan tekanan darah tinggi, sedangkan 33 kelahiran terjadi sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu atau termasuk kelahiran prematur.
Jika berhasil direalisasikan, transplantasi rahim dapat menjadi pilihan baru bagi perempuan yang selama ini tidak memiliki kesempatan untuk mengandung dan melahirkan anak secara biologis.
Sc : JT








