Penutupan Strait of Hormuz akibat serangan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran mulai berdampak besar pada ekonomi Jepang. Selat penting ini merupakan jalur utama distribusi minyak mentah dunia, sehingga gangguan di sana langsung memicu lonjakan harga dan ketidakpastian pasokan.
Survei yang dilakukan oleh Teikoku Databank terhadap 1.686 perusahaan di Jepang menunjukkan situasi yang cukup mengkhawatirkan. Sebanyak 26,7% perusahaan memperkirakan mereka hanya bisa bertahan antara 3 hingga 6 bulan jika harga minyak terus naik. Bahkan, 17,2% lainnya menyebut hanya mampu bertahan kurang dari 3 bulan.
Artinya, total 43,9% perusahaan berpotensi harus mengurangi atau menghentikan bisnis utama mereka dalam waktu 6 bulan ke depan. Di sisi lain, hanya 18,3% yang merasa mampu bertahan lebih dari satu tahun.
Sektor yang paling terdampak adalah ritel, termasuk SPBU dan dealer mobil, dengan 54,5% responden mengaku mungkin harus mengurangi operasional dalam 6 bulan. Sementara itu, sektor manufaktur juga terkena dampak besar—bahkan 22,8% perusahaan di sektor ini memperkirakan harus memangkas operasi dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Masalahnya bukan hanya harga energi, tapi juga kelangkaan bahan baku. Beberapa perusahaan mengaku kesulitan mendapatkan material berbasis minyak seperti plastik, polyethylene, hingga pelarut kimia. Jika kondisi ini berlanjut, produksi bisa terhenti total, bahkan berisiko memicu kebangkrutan berantai di antara klien mereka.
Dampaknya juga mulai terasa di berbagai industri lain, termasuk produksi perlengkapan rumah seperti sistem kamar mandi, yang menunjukkan bahwa krisis ini berpotensi menyebar luas ke seluruh sektor industri Jepang.
Sc : Nippon








