Menu

Dark Mode
Survei: Sekitar 350 Ribu Orang di Jepang Pernah Gunakan Kokain, Angka Tertinggi Sejak 2007 Jepang Mulai Operasikan Taksi Mini Berbahan Bakar Gas Pertama, Pentas Panggung Spirited Away Gelar Tur Dunia, Singgah ke Kanada, AS, Inggris, Taiwan, dan Jepang Jepang Kembangkan AI untuk Deteksi Pohon Berisiko Tumbang, Cegah Kecelakaan di Ruang Publik Pria WNI Asal Indonesia Ditangkap usai Bobol Home Center di Jepang, Ngaku Incar Kunci Koper Jepang Naikkan Pajak Keluar Negara Jadi 3.000 Yen, Biayai Penanganan Lonjakan Wisatawan Asing

News

Kuil di Jepang Dikecam karena Hanya Kenakan Tiket Masuk kepada Turis Asing

badge-check


					Kuil di Jepang Dikecam karena Hanya Kenakan Tiket Masuk kepada Turis Asing Perbesar

Sebuah kuil di Jepang bagian barat daya menuai kontroversi dan kritik setelah memutuskan untuk mengenakan biaya masuk hanya kepada turis asing, di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu-isu terkait orang asing menjelang pemilu nasional Jepang.

Sejak Mei lalu, Kuil Nanzoin di Prefektur Fukuoka — terkenal karena patung Buddha tidur sepanjang 41 meter — mulai memungut biaya masuk sebesar 300 yen (sekitar Rp32.000) untuk wisatawan mancanegara. Pihak kuil menyebut dana tersebut dibutuhkan untuk menangani berbagai perilaku yang dianggap mengganggu.

Seorang pakar mengatakan kepada Kyodo News bahwa kebijakan ini “kurang transparan”, terutama karena perdebatan soal kebijakan tarif khusus untuk turis asing — yang jumlahnya mencapai rekor tertinggi — semakin menghangat menjelang pemilu Majelis Tinggi Jepang pada hari Minggu.

Sebuah papan bertuliskan “Visitors” dalam bahasa Inggris dipasang di pintu masuk area sekitar salah satu patung Buddha tidur terbesar di dunia, tempat turis asing mengantre untuk membayar di loket penerimaan. Namun, orang asing yang memiliki bukti tinggal jangka panjang di Jepang untuk keperluan kerja atau studi dikecualikan dari biaya ini.

Karena warga Jepang tidak dikenai biaya masuk, papan tersebut tidak menyediakan keterangan dalam bahasa Jepang. Sebagai gantinya, staf atau petugas keamanan akan bertanya secara lisan seperti, “Apakah Anda dari Jepang?” dan jika dijawab ya, mereka langsung diarahkan masuk tanpa antre atau membayar.

Kepala biksu kuil, Kakujo Hayashi (72), mengatakan bahwa sejak pembatasan COVID-19 dicabut, jumlah pengunjung asing meningkat pesat, disertai masalah seperti sampah yang berserakan, minum alkohol, menyalakan kembang api, hingga penyalahgunaan fasilitas toilet di area kuil.

“Kami ingin ada yang bertanggung jawab atas biaya tambahan untuk kebersihan dan keamanan,” ujar Hayashi. “Ini bukan bentuk diskriminasi,” tambahnya.

Penerapan tarif berbeda berdasarkan kewarganegaraan sebenarnya bukan hal yang baru di dunia internasional. Misalnya, Taj Mahal di India juga menerapkan tarif lebih tinggi untuk turis asing guna membantu biaya pemeliharaan, sambil tetap menjaga agar warga lokal dapat masuk dengan harga terjangkau.

Sc : KN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Survei: Sekitar 350 Ribu Orang di Jepang Pernah Gunakan Kokain, Angka Tertinggi Sejak 2007

3 July 2026 - 10:10 WIB

Jepang Kembangkan AI untuk Deteksi Pohon Berisiko Tumbang, Cegah Kecelakaan di Ruang Publik

2 July 2026 - 14:10 WIB

Pria WNI Asal Indonesia Ditangkap usai Bobol Home Center di Jepang, Ngaku Incar Kunci Koper

2 July 2026 - 11:10 WIB

Jepang Naikkan Pajak Keluar Negara Jadi 3.000 Yen, Biayai Penanganan Lonjakan Wisatawan Asing

2 July 2026 - 10:10 WIB

Aturan Visa Baru Jepang Bikin Pengusaha Asing Cemas, Restoran Terancam Tutup dan Dideportasi

2 July 2026 - 07:52 WIB

Trending on News