Menu

Dark Mode
My Hero Academia Resmi Tamat Setelah Hampir Satu Dekade, Menutup Kisah Deku dengan Seruan “PLUS ULTRA” Jizō-sama: Penjaga Sunyi Anak-Anak dan Orang yang Melintas di Jalanan Jepang Film Terbaru Crayon Shin-chan Bertema Yōkai Siap Tayang Musim Panas 2026 Cara Membawa Perlengkapan Sholat & Makanan Halal dari Indonesia ke Jepang Cara Mengatakan “Aku Nggak Yakin” dalam Banyak Nuansa Bahasa Jepang Manga Psyren Akhirnya Dapat Adaptasi Anime, Tayang 2026

News

Saat Harga Beras Meroket, Warga Jepang Berbondong ke Toko Milik Warga Asing di Gunma

badge-check


					Saat Harga Beras Meroket, Warga Jepang Berbondong ke Toko Milik Warga Asing di Gunma Perbesar

Jumlah warga Jepang yang membeli beras impor dari toko milik warga asing di Prefektur Gunma terus meningkat, terutama sejak awal Juni ketika harga beras domestik naik drastis dan terjadi kelangkaan pasokan.

Gunma, yang memiliki persentase penduduk asing tertinggi di Jepang selain Tokyo dan Aichi, kini dipenuhi toko dan konbini (minimarket) yang dioperasikan oleh pendatang dari Asia dan Amerika Selatan, menjual berbagai jenis beras dari negara seperti Thailand, India, hingga Pakistan.

Salah satu contohnya adalah Alh Mini Mart and Restaurant di Kota Tatebayashi, yang dikelola oleh Aung Tin, warga Rohingya asal Myanmar. Ia menyebutkan bahwa awalnya pembeli didominasi oleh warga asing, namun sejak krisis beras musim panas tahun lalu, jumlah pembeli Jepang terus meningkat. Di tokonya, tersedia lebih dari 10 jenis beras, termasuk beras California dan beras basmati khas India yang biasa digunakan untuk biryani.

Aung Tin juga membagikan tips memasak biryani: “Kami menata lapisan nasi dan bahan-bahan di dalam rice cooker komersial, lalu mengukusnya. Kuncinya adalah menjaga nasi tetap kenyal dan tidak lembek.”

Menurut Pemerintah Prefektur Gunma, per Desember 2024, terdapat 81.396 penduduk asing atau 4,3% dari total populasi, menjadikan Gunma salah satu prefektur dengan konsentrasi warga asing tertinggi di Jepang.

Fenomena serupa terjadi di dekat Stasiun JR Maebashi, di mana banyak sekolah bahasa Jepang beroperasi. Chyandora, sebuah minimarket yang dijalankan oleh Neupane Bhesham Raj, warga Nepal, menjual beras jasmine dari Thailand dan Vietnam. Meski 70% pembeli adalah warga asing, 30% sisanya adalah warga Jepang. Ia mengatakan, “Karena harga beras Jepang terus naik, pembelian dari pelanggan Jepang ikut melonjak.” Beras Japonica asal Vietnam menjadi favorit karena rasanya mirip dengan beras Jepang lokal.

Permintaan tinggi juga mendorong peningkatan impor pribadi, seperti yang dilakukan Beliatta Lanka Co. di Ibaraki, yang menjadi pemasok untuk Chyandora. Dengan tarif bea masuk sebesar 341 yen per kilogram, harga eceran beras impor juga ikut naik.

Lonjakan harga dan kelangkaan beras dalam negeri secara tidak langsung membuka jalan bagi beras impor dan toko warga asing untuk masuk pasar Jepang lebih luas, bahkan menarik konsumen lokal.

Sc : mainichi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Gempa 7,5 Magnitudo Jadi Peringatan: Turis Asing di Jepang Tak Tahu Prosedur Evakuasi

15 December 2025 - 12:30 WIB

Dua Orang Ditusuk di Area Gedung Hiburan Idol HKT48, Fukuoka Jepang

15 December 2025 - 10:10 WIB

Jepang Siapkan Anggaran Pertahanan Hampir Rp900 Triliun, Termasuk Rudal Jarak Jauh dan Drone

13 December 2025 - 12:10 WIB

BOJ Bersiap Naikkan Suku Bunga ke Level Tertinggi dalam 30 Tahun di Tengah Inflasi Berkepanjangan

13 December 2025 - 11:10 WIB

Kanji “Kuma” Dipilih Jadi Kanji Tahun 2025 Karena Maraknya Kasus Serangan Beruang

13 December 2025 - 10:10 WIB

Trending on News