Di tengah persaingan global dalam mempercepat penelitian ilmiah menggunakan kecerdasan buatan (AI), Institute of Science Tokyo membuka fasilitas baru tempat AI dan robot dapat melakukan penelitian serta eksperimen secara otomatis tanpa campur tangan manusia.
Dalam upacara pembukaan Robotic Innovation Center (RIC) pada 15 April lalu, robot humanoid bernama Mahoro ikut berpartisipasi dalam acara pemotongan pita peresmian.
Direktur pusat tersebut, Keiichi Nakayama, mengatakan bahwa kombinasi AI dan robot Jepang yang mampu melakukan eksperimen secara umum dapat menciptakan masa depan besar bagi dunia sains Jepang.
Pemerintah Jepang sendiri pada April lalu menetapkan target untuk meningkatkan kecepatan proyek penelitian dan pengembangan teknologi canggih hingga 10 kali lipat sebagai bagian dari strategi nasional.
Robot Mahoro memiliki dua lengan yang mampu menggunakan pipet dan berbagai peralatan laboratorium yang biasanya dirancang untuk manusia. Menurut pihak institut, robot ini hampir sempurna saat melakukan eksperimen rumit yang berkaitan dengan protein, jauh lebih tinggi dibanding tingkat keberhasilan peneliti manusia yang disebut hanya sekitar 10 persen dalam eksperimen tertentu.
Lansia Perempuan di Jepang Kini Lebih Pilih Curhat ke AI daripada Manusia
Selain itu, Mahoro dapat bekerja tanpa henti selama 24 jam sehari dan 365 hari dalam setahun.
Saat ini terdapat tujuh robot Mahoro yang dipasang di RIC untuk membantu pengembangan obat, pembuatan paper ilmiah, dan peningkatan kemampuan AI.
Pusat penelitian tersebut menargetkan penggabungan robot dengan AI yang dapat menganalisis hasil eksperimen agar mampu menjalankan penelitian sepenuhnya otomatis sekitar tahun 2040.
Jumlah robot juga direncanakan akan meningkat menjadi 200 unit pada 2033 dan mencapai 2.000 unit pada 2040.
Persaingan pengembangan AI untuk sains juga semakin ketat secara global. Pada November tahun lalu, Amerika Serikat mengumumkan rencana untuk menggandakan produktivitas dan pengaruh penelitian ilmiahnya dalam satu dekade ke depan.
Sementara itu, Inggris juga meluncurkan strategi nasional untuk memanfaatkan AI dalam menemukan kandidat obat siap uji coba hanya dalam waktu 100 hari.
Pengembangan AI yang memiliki pemahaman ilmu pengetahuan dianggap menjadi kunci penting dalam inovasi tersebut.
Meski begitu, AI berbasis large language model seperti ChatGPT masih dianggap memiliki kelemahan dalam matematika dan sains. AI semacam ini terkadang masih melakukan kesalahan sederhana seperti perhitungan dasar atau kekeliruan logika ilmiah.
Karena itu, perusahaan teknologi besar seperti OpenAI dan Google kini berlomba mengatasi kelemahan tersebut.
Profesor Hiroaki Kitano dari Okinawa Institute of Science and Technology Graduate University mengatakan bahwa AI yang benar-benar memahami sains nantinya tidak hanya akan berdampak pada penelitian ilmiah, tetapi juga seluruh industri secara luas dengan pengaruh ekonomi yang sangat besar.










