Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi sorotan setelah salah menyebut Jepang sebagai “Republik Islam Jepang” saat berbicara mengenai konflik antara Amerika Serikat dan Iran dalam sebuah pertemuan NATO di Ankara.
Saat menjelaskan alasan operasi militer AS di Timur Tengah, Trump bermaksud merujuk pada Republik Islam Iran. Namun, ia justru mengucapkan “Islamic Republic of Japan” ketika membahas dugaan serangan terhadap kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln.
Pernyataan tersebut langsung menjadi perbincangan karena mengandung beberapa kekeliruan mendasar.
Pertama, Jepang bukan negara republik, melainkan monarki konstitusional yang dipimpin Kaisar sebagai kepala negara simbolis.
Kedua, Jepang bukan negara Islam dan tidak menjadikan agama tertentu sebagai dasar negara.
Ketiga, Jepang merupakan sekutu dekat Amerika Serikat, sehingga tidak memiliki keterkaitan dengan konflik yang sedang berlangsung antara AS dan Iran.
Banyak pihak menilai Trump kemungkinan hanya keliru menyebut nama negara dan bermaksud mengatakan Iran. Namun, kesalahan tersebut tetap menarik perhatian karena menyangkut isu geopolitik yang sensitif.
Media dan warganet di Jepang pun ramai membahas insiden ini. Mayoritas komentar bernada heran dan menganggap kekeliruan tersebut sebagai kesalahan yang cukup mencolok, mengingat Trump sedang membahas negara yang menjadi pihak dalam konflik.
Insiden ini juga mengingatkan publik pada sejumlah salah ucap Trump sebelumnya, termasuk ketika ia pernah keliru menyebut Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebagai “Presiden Putin” dalam kesempatan lain.










