Menu

Dark Mode
Shinjuku Tokyo Berencana Larang Airbnb di Kawasan Permukiman dan Dekat Sekolah Jepang Akan Gunakan ODA untuk Tingkatkan Pelabuhan Perikanan Indonesia Film Reboot Live-Action Resident Evil Rilis September, Tayang di Jepang Oktober JR East Hentikan Sejumlah Layanan Kereta akibat Hujan Lebat di Jepang Timur ANA Mulai Gunakan Robot Telepresence untuk Bantu Penumpang di Bandara Regional Jepang House Foods Group Pertimbangkan Jual CoCo Ichibanya, Saham Melonjak 16%

Bahasa Jepang

Peran ‘Honne’ dan ‘Tatemae’ dalam Bahasa Sehari-hari: Jujur atau Basa-basi?

badge-check


					Peran ‘Honne’ dan ‘Tatemae’ dalam Bahasa Sehari-hari: Jujur atau Basa-basi? Perbesar

Dalam budaya Jepang, komunikasi bukan hanya soal kata, tapi juga soal membaca situasi. Dua konsep penting yang mencerminkan hal ini adalah “honne” (本音) dan “tatemae” (建前). Kedua istilah ini menjelaskan perbedaan antara apa yang seseorang sebenarnya pikirkan dan apa yang diungkapkan secara sosial. Menariknya, perbedaan ini juga sangat terlihat dalam cara orang Jepang berbicara.

Apa Itu Honne dan Tatemae?

  • Honne (本音) adalah perasaan atau opini pribadi yang tulus dan jujur. Biasanya tidak diutarakan langsung jika dianggap bisa menimbulkan konflik.

  • Tatemae (建前) adalah ekspresi yang dikatakan demi menjaga keharmonisan sosial, sopan santun, atau ekspektasi masyarakat—meskipun tidak sepenuhnya mencerminkan perasaan sebenarnya.

Dalam bahasa Indonesia, perbedaan ini mirip dengan “bicara dari hati” versus “basa-basi sopan”.


Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

  1. Saat Diajak Makan

    • Tatemae: 「今日はちょっと…」(Kyou wa chotto…) – “Hari ini agak…” (penolakan halus)

    • Honne: “Aku malas ketemu dia.”

  2. Dalam Rapat Kerja

    • Tatemae: 「なるほど、検討してみます」(Naruhodo, kentou shite mimasu) – “Baik, akan saya pertimbangkan.”

    • Honne: “Saya tidak setuju, tapi tidak bisa bilang langsung.”

  3. Menanggapi Masakan Teman

    • Tatemae: 「おいしいですね」(Oishii desu ne) – “Enak, ya!”

    • Honne: “Terlalu asin, tapi nggak enak kalau bilang.”


Kenapa Penting dalam Budaya Jepang?

Konsep honne dan tatemae berkaitan erat dengan nilai wa (和), yaitu harmoni sosial. Dalam masyarakat Jepang yang menekankan kerja sama dan penghindaran konflik, seringkali lebih penting untuk tidak menyakiti perasaan orang lain daripada menyampaikan pendapat secara blak-blakan.

Banyak penutur asing menganggap ini membingungkan, karena apa yang dikatakan bisa sangat berbeda dari yang dirasakan. Tapi bagi orang Jepang, kemampuan membaca konteks (kuuki wo yomu) justru dianggap tanda kedewasaan sosial.


Apakah Ini Munafik?

Tidak. Di Jepang, menggunakan tatemae bukan berarti tidak jujur, melainkan cara menunjukkan kesopanan dan empati. Menyembunyikan honne dianggap sebagai bagian dari kontrol diri demi menjaga hubungan baik.

Namun, penting juga untuk tahu kapan dan kepada siapa honne bisa diungkapkan—biasanya hanya dalam hubungan dekat dan dengan orang yang dipercaya.


Memahami honne dan tatemae membantu kita mengerti nuansa komunikasi dalam budaya Jepang. Ini bukan hanya soal “apa yang dikatakan”, tapi juga “bagaimana dan kepada siapa” sesuatu dikatakan.

Jadi, kalau kamu merasa bingung kenapa teman Jepangmu berkata “daijoubu desu” padahal sebenarnya tidak apa-apa—bisa jadi itu tatemae sedang bekerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Jepang Akan Gunakan ODA untuk Tingkatkan Pelabuhan Perikanan Indonesia

7 September 2026 - 16:10 WIB

Jepang Akan Membentuk Panel Ahli untuk Tinjau Aturan Penerimaan Warga Asing

27 July 2026 - 19:32 WIB

Gangguan Sistem, Pembayaran Kartu Kredit Sempat Lumpuh di Berbagai Toko di Jepang

16 July 2026 - 14:04 WIB

Pernyataan Presiden AS Donald Trump Salah Sebut Iran Jadi “Republik Islam Jepang”, Tuai Reaksi di Jepang

10 July 2026 - 14:38 WIB

Jepang Mulai Operasikan Taksi Mini Berbahan Bakar Gas Pertama, Target Atasi Kekurangan Sopir

4 July 2026 - 09:11 WIB

Trending on Bahasa Jepang