Jumlah anak-anak di Jepang kembali mengalami penurunan signifikan. Per 1 April, populasi anak di bawah usia 15 tahun diperkirakan hanya mencapai 13,29 juta jiwa, turun sekitar 350.000 dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menjadi rekor terendah sejak data serupa mulai dicatat pada tahun 1950.
Tak hanya jumlahnya, proporsi anak-anak terhadap total populasi juga ikut menurun. Rasio tersebut kini berada di angka 10,8 persen, turun 0,3 poin dan menjadi yang terendah sepanjang sejarah pencatatan.
Data yang dirilis oleh Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang ini mencakup warga asing, dan dihitung berdasarkan estimasi populasi yang mengacu pada sensus nasional lima tahunan.
Pemerintah Jepang sendiri telah menjadikan penurunan angka kelahiran sebagai isu prioritas, bahkan menyebut periode hingga tahun 2030 sebagai “kesempatan terakhir” untuk membalikkan tren tersebut. Namun, kenyataannya penurunan ini sudah berlangsung selama 45 tahun berturut-turut, meskipun berbagai kebijakan telah diterapkan, termasuk peningkatan dukungan finansial bagi keluarga yang memiliki anak.
Dilihat dari distribusi usia, jumlah anak usia 12 hingga 14 tahun mencapai 3,09 juta, jauh lebih banyak dibandingkan anak usia 0 hingga 2 tahun yang hanya 2,13 juta. Hal ini menunjukkan bahwa angka kelahiran terus menurun dari tahun ke tahun.
Secara historis, populasi anak di Jepang mencapai puncaknya pada tahun 1954 dengan 29,89 juta jiwa. Sejak saat itu, jumlahnya terus menyusut, dengan rasio anak juga telah menurun selama 52 tahun berturut-turut sejak 1975.
Dalam perbandingan global berdasarkan survei PBB, Jepang kini memiliki rasio anak terendah kedua di antara 38 negara dengan populasi lebih dari 40 juta. Posisi terendah ditempati oleh Korea Selatan dengan rasio 10,2 persen.








